Selasa, 13 Februari
2018
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS
Sains (IPA) didefinisikan sebagai pengetahuan yang sistematis dan
tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data
hasil observasi dan eksperimen. Sains juga didefinisikan sebagai pengetahuan
yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan
deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat
dipercaya. Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan.
Hakikat sains meliputi empat unsur utama.
(1) Sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup,
serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan
melalui prosedur yang benar; sains bersifat open ended.
(2) Proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode 6 ilmiah; metode
ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan,
evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.
(3) Produk:
berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.
(4) Aplikasi:
penerapan metode ilmiah dan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat unsur itu
merupakan ciri sains yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama
lain. Dalam proses pembelajaran sains keempat unsur itu diharapkan dapat
muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh,
memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan
meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru
Terdapat
tiga kemampuan yang dikembangkan dalam sains yaitu:
(1) kemampuan
untuk mengetahui apa yang diamati,
(2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum
diamati, dan kemampuan untuk menguji tindak
lanjut hasil eksperimen,
(3) dikembangkannya
sikap ilmiah.
Kegiatan pembelajaran sains mencakup
pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami
jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana”
tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui 7 cara-cara
sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Kegiatan
tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah.
Melalui metode ilmiah, dapat dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar,
terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli
terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan
orang lain. Sikap dan nilai tersebut terkandung dalam pendidikan
karakter.
Model pembelajaran
adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan
secara khas oleh guru. Model pembelajaran merupakan bingkai dari
penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Ada banyak model
pembelajaran dan beberapa yang disarankan di dalam kurikulum 2013 untuk
pembelajaran sains diantaranya adalah:
A. Model Pembelajaran discovery
Penemuan adalah terjemahan dari discovery.
Menurut Sund ”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu
mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah,
membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan
adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya
suatu produk atau item pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam
pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan,
dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang
tampaknya ganjil mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat
dugaan, menjelaskan, mengukur sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan.
Model penemuan terbimbing menempatkan guru
sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model
ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat
”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru. Model penemuan terbimbing atau terpimpin
adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh
siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya
berbentuk pertanyaan membimbing.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
model penemuan terbimbing adalah model pembelajaran yang dimana siswa berpikir
sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum yang diinginkan dengan
bimbingan dan petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang
mengarahkan ciri utama belajar menemukan yaitu: (1) mengeksplorasi dan
memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan
yang sudah ada.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
a.
Merumuskan masalah
yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya
harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah
yang ditempuh siswa tidak salah.
b.
Dari data yang
diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data
tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan
saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang
hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c.
Siswa menyusun
konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d.
Bila dipandang perlu,
konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini
penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan
menuju arah yang hendak dicapai.
e.
Apabila telah diperoleh kepastian tentang
kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan
juga kepada siswa untuk menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa
induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
f.
Sesudah siswa
menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal
tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
Kelebihan
Model Pembelajaran Penemuan
a.
Siswa dapat
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b.
Menumbuhkan sekaligus
menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
c.
Mendukung kemampuan
problem solving siswa.
d.
Memberikan wahana
interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa
juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e.
Materi yang dipelajari
dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena
siswa dilibatkan dalam proses menemukanya.
f.
Siswa belajar
bagaimana belajar (learn how to learn).
g.
Belajar menghargai
diri sendiri.
h.
Memotivasi diri dan
lebih mudah untuk mentransfer.
i.
Pengetahuan bertahan
lama dan mudah diingat.
j.
Hasil belajar
discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya
k.
Meningkatkan penalaran
siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.
l.
Melatih
keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah
tanpa pertolongan orang lain.
Kekurangan
Model Pembelajaran Penemuan
a.
Untuk materi tertentu,
waktu yang tersita lebih lama.
b.
Tidak semua siswa
dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih
terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
c.
Tidak semua topik
cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan
dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
A.
Model Pembelajaran Inquiri
Kata
inquiri barasal dari bahasa inggris “inquiry” berarti pertanyaan,
pemeriksaan, atau penyelidikan. Model pembelajaran inquiri adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara
kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang di pertanyakan . proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan
melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini juga
sering dinamakan strategiheuristic, yang berasal dari kata
yunani, heuriskein yang berarti saya menemukan
(Sanjaya,2006).
Menurut Piaget bahwa model pembelajaran
inquiri adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada
situasi untuk melakukan eksperimen sendiri: dalam arti luas ingin
melihat apa yang terjadi, atau ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan
simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan
penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang di
temukan dengan yang di temukan orang lain.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran inquri adalah merupakan suatu proses yang
ditempuh siswa untuk memecahkan suatu masalah, merencanakan eksperimen dan
melakukan eksperimen,menyimpulkan dan menganalisis data,dan menarik kesimpulan.
Jadi dalam model inquiri ini siswa terlibat secara mental, maupun fisik untuk
memecahkan suatu permasalahan yang di berikan oleh guru. Dengan demikian siswa
akan terbiasa bersikap seperti para ilmuan sains,yaitu teliti, tekun/ulet,
objektif/jujur, kreatif dan menghormati pendapat orang lain.
Langkah-langkah
pendekatan inquiri
a. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina
suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru
mengondisikan agar siswa tiap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan
tahapan preparation dalam pembelajaran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk
mengondisikan agar siswa siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi
dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan
masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan
sangat bergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan
kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak
akan mungkin proses pembelajaran akan berjalan lancar.
b. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa
siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang di sajikan
adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu.
Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah
itu tentu ada jawabanya, dan siswa di dorong untuk mencari jawaban yang tepat.
Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam model pembelajaran
inquiri ini, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui
proses berpikir.
c. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu
permasalahan yang sedang di kaji. Sebagai jawaban sementara,hipotesis perlu
diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada
dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai
dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis)
dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka
ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut.
Oleh sebab itu potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap
individu harus dibina. Salah satu cara dapat dilakukan guru untuk mengembangkan
kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan
berbagai pertanyaaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban
sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari
suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang
perkiraan ,tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh,sehingga
hipotesis yang di munculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir
logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki
serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang
mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang logis dan rasional.
d. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring
informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi
pembelajaran inquiri, mengumpulkan data merupakan proses yang sangat penting
dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan
motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan
kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.oleh sebab itu, tugas dan peran guru
dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong
siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan . sering terjadi
kemacetan berinkuiri adalah manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini,
maka guru hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk
belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada
seluruh siswa sehingga mereka merangsang untuk berpikir.
e. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan
jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh
berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah
mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu,
menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional.
Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi,
akan tetapi harus di dukung oleh data yang di temukan dan dapat di pertangung
jawabkan.
f. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskrisikan
temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan
kesimpulan merupakan proses pembelajaran. Sering terjadi oleh karena banyaknya
data yang di peroleh menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus
terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai
kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data yang
mana yang relevan.
Keunggulan
model pembelajaran inquiri
a.
Model pembelajaran
inquiri ini merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran
melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b.
Model pembelajaran
inquiri ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan
gaya belajar mereka.
c.
Model pembelajaran
inquiri ini merupakan model yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi
belajar modern yang mengangap belajar adalah proses perubahan tingkah laku
berkat adanya pengalaman.
d.
Model pembelajaran ini
dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan
terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Kelemahan
model pembelajaran inquiri
a.
Jika model pembelajaran
inquiri ini digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol
kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.
Model pembelajaran
ini juga sulit dalam merencanakan pembelajaran dikarenakan terbentur
dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.
Kadang-kadang dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah di tentukan.
d.
Selama kriteria
keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka model pembelajaran inquiri ini akan sulit diimplementasikan
oleh setiap guru.
C. Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)
Model pembelajaran berbasis masalah ini erat
kaitannya dengan pendekatan kontekstual. Esensi dari pembelajaran berbasis
masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme dan
mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat dalam
pemecahan masalah yang kontekstual. Untuk memperoleh informasi dan
mengembangkan konsep-konsep sains, peserta didik belajar tentang bagaimana
membangun kerangka masalah, menyusun fakta, menganalisis data, dan menyusun
argumentasi terkait pemecahan masalah, kemudian memecahkan masalah, baik secara
individual maupun dalam kelompok.
Model pembelajaran berbasis masalah dirancang
untuk mencapai tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan
penyelidikan, memahami peran orang tua, dan membantu peserta didik memiliki
keterampilan mandiri. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menciptakan
pembelajaran berbasis masalah yang berkaitan dengan mata pelajaran di sekolah,
proses pembelajaran tidak mesti dikerjakan di dalam kelas. Peserta didik dapat
membangun pengetahuannya melalui interaksi sosial. Yamin (2012) Kehidupan masyarakat di sekitar peserta didik
dapat mengembangkan pengetahuan, akan tetapi guru selalu memberikan tagihan
kepada peserta didik agar keingintahuan peserta didik tinggi. Pembelajaran
seperti ini akan menciptakan peserta didik yang dewasa dalam berpikir.
Kematangan berpikir ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.
Ada lima gambaran yang umum menjadi
identifikasi pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
1. Dikembangkan dari pertanyaan atau masalah.
Dari pada mengorganisasikan pelajaran di seputar prinsip-prinsip atau kecakapan
akademik tertentu, PBL mengorganisasikan pengajaran pada sejumlah pertanyaan
atau masalah yang penting, yang baik secara sosial maupun personal bermakna
bagi peserta didik. Pendekatan ini mengaitkan pembelajaran dengan situasi
kehidupan nyata.
2. Fokusnya antardisiplin. Walau PBL dapat
diterapkan memusat untuk membahas subjek tertentu (sains, matematika, sejarah,
atau lainnya), tetapi lebih dipilih pembahasan masalah aktual yang dapat
diinvestigasi dari berbagai sudut disiplin ilmu.
3. Penyelidikan otentik. Istilah otentik selalu
dikaitkan dengan masalah yang timbul di kehidupan nyata, yang langsung dapat
diamati. Oleh karena itu, masalah yang timbul juga harus dicarikan penyelesaian
secara nyata. Para peserta didik harus menganalisis dan mendefinisikan
masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan
menganalisis informasi, bila perlu melaksanakan eksperimen, membuat inferensi
dan menarik kesimpulan. Metode investigasinya tentu saja bergantung pada
sifat-sifat masalah yang dikaji.
4. Menghasilkan produk berupa laporan, makalah,
model fisik, video, suatu program komputer, atau naskah.
5. Ada kolaborasi. Implementasi PBL ditandai oleh
adanya kerja sama antar peserta didik satu sama lain, biasanya dalam pasangan
peserta didik atau kelompok kecil peserta didik. Bekerja sama akan memberikan
motivasi untuk terlibat secara berkelanjutan dalam tugas-tugas yang kompleks,
meningkatkan kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan mengembangkan
inkuiri, serta melakukan dialog untuk mengembangkan kecakapan sosial.
Model pembelajaran berbasis masalah dapat
berkembang jika terbangun suatu situasi kelas yang efektif. Karakteristik yang
harus dipenuhi agar terbangun situasi kelas yang efektif dalam model
pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:
1.
Suasana kelas harus
dapat memfasilitasi suatu eksplorasi makna. Para peserta didik harus merasa
aman dan merasa diterima. Mereka memerlukan pemahaman baik tentang risiko
maupun penghargaan yang akan diperolehnya dari pencarian pengetahuan dan
pemahaman. Situasi kelas harus mampu menyediakan kesempatan bagi mereka untuk
terlibat, saling berinteraksi, dan sosialisasi.
2.
Peserta didik harus
sering diberi kesempatan untuk mengkonfrontasikan informasi baru dengan
pengalamannya selama proses pencarian makna. Namun kesempatan semacam itu
janganlah timbul dari dominasi guru selama pembelajaran, tetapi harus timbul
dari banyaknya kesempatan peserta didik untuk menghadapi tantangan-tantangan
baru berdasarkan pengalaman masa lalunya.
3.
Makna baru tersebut
harus diperoleh melalui proses penemuan secara personal.
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan
tipe pengelolaan kelas yang diperlukan untuk mendukung pendekatan
konstruktivisme dalam pengajaran dan belajar. Pembelajaran perlu suatu proses
yang dapat digunakan untuk mendesain pengalaman pembelajaran berbasis masalah
bagi peserta didik. Kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan untuk menunjang proses
tersebut sebagai berikut:
1.
Identifikasikan suatu
masalah yang cocok bagi para peserta didik.
2.
Kaitkan masalah
tersebut dengan konteks dunia peserta didik sehingga mereka dapat menghadirkan suatu kesempatan otentik.
3.
Organisasikan pokok
bahasan di sekitar masalah.
4.
Berilah para peserta
didik tanggungjawab untuk dapat mendefinisikan sendiri pengalaman belajar
mereka serta membuat perencanaan dalam menyelesaikan masalah.
5.
Dorong timbulnya
kolaborasi dengan membentuk kelompok pembelajaran.
6.
Berikan dukungan
kepada semua peserta didik untuk mendemonstrasikan hasil-hasil pembelajaran
mereka misalnya dalam bentuk suatu karya atau kinerja tertentu.
Sumber lain mengungkapkan bahwa kewajiban guru
dalam penerapan model Sintaks dalam model pembelajaran berbasis masalah
meliputi (Warsono
dan Hariyanto, 2012):
1. Orientasi peserta didik kepada masalah.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menguraikan kebutuhan logistik (bahan dan alat) yang diperlukan bagi pemecahan
masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan
masalah yang telah dipilih peserta didik bersama guru, maupun yang dipilih sendiri
oleh peserta didik.
2. Mendefinisikan masalah dan mengorganisasikan
peserta didik untuk belajar.
membantu peserta didik mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas-tugas peserta didik dalam belajar memecahkan masalah,
menentukan tema, jadwal, tugas dan lain-lain.
3. Memandu investigasi mandiri maupun investigasi
kelompok.
Guru memotivasi peserta didik untuk membuat hipotesis,
mengumpulkan informasi, data yang relevan dengan tugas pemecahan masalah,
melakukan eksperimen untuk mendapatkan informasi dan pemecahan masalah.
4. Mengembangkan dan mempresentasikan karya.
Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan
karya yang relevan, misalnya membuat laporan, membantu berbagi tugas dengan
teman-teman di kelompoknya dan lain-lain, kemudian peserta didik
mempresentasikan karya sebagai bukti pemecahan masalah.
5. Refleksi dan penilaian.
Guru memandu peserta didik untuk melakukan refleksi, memahami
kekuatan dan kelemahan laporan mereka, mencatat dalam ingatan butir-butir atau
konsep penting terkait pemecahan masalah, menganalisis dan menilai
proses-proses dan hasil akhir dari investigasi masalah. Selanjutnya
mempersiapkan penyelidikan lebih lanjut terkait hasil pemecahan masalah.
Kelebihan model
pembelajaran berbasis masalah
1. Peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah
dan merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan
pembelajaran dalam kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa
berdiskusi dengan teman-teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman
sekelasnya.
3. Makin mengakrabkan guru dengan peserta didik.
4. Karena ada kemungkinan suatu masalah harus
diselesaikan peserta didik melalui eksperimen hal ini juga akan membiasakan
peserta didik dalam menerapkan eksperimen.
Kekurangan model
pembelajaran berbasis masalah
1. Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan
peserta didik kepada pemecahan masalah.
2. Seringkali memerlukan biaya mahal dan waktu
yang panjang.
3. Aktivitas peserta didik yang dilaksanakan di
luar sekolah sulit dipantau guru.
D. Project
Based Learning Model (Model Pembelajaran Berbasis Proyek)
Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) adalah model
pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media (Daryanto, 2014)
dan merupakan model pembelajaran inovatif yang memfokuskan pada belajar
kontekstual melalui kegitan yang kompleks ( CORD dalam Sutirman, 2013).
Kita
ketahui pembelajaran di Indonesia pada saat ini masih dominan dengan
pembelajaran tradisional, oleh karena itu pembelajaran berbasis proyek dapat
digunakan untuk mengubah kelas tradisional (Sutirman, 2013) yang umumnya
bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek dan aktivitas pembelajaran
berpusat pada guru (Sutirman, 2013). Pembelajaran berbasis proyek didasarkan
pada teori kontruktivisme dan merupakan pembelajaran siswa aktif.
Pembelajaran
berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
dalam merancang tujuan pembelajaran untuk menghasilkan produk atau proyek yang
nyata dimana proyek yang dibuat oleh siswa mendorong berbagai kemampuan tidak
hanya pengetahuan atau masalah teknis, tetapi juga keterampilan praktis seperti
mengatasi informasi yang tidak lengkap atau tidak tepat; menentukan tujuan
sendiri; dan kerjasama kelompok (Sutirman, 2013). Tidak hanya itu, pembelajaran
beebasis proyek juga dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam
membuat perencanaan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan membuat
keputusan (Sani, 2014).
Dalam
pembelajaran berbasis proyek siswa dituntut untuk merumuskan tujuan
pembelajaran sendiri secara khusus. Proyek yang ingin dibuat harus didasarkan
pada minat dan kemampuan siswa baik secara pribadi maupun kelompok dengan
mewajibkan siswa untuk mengatur kegiatan belajarnya dengan membagi beban kerja
diantara anggota kelompoknya (Sutirman, 2013) dan menggunakan masalah sebagai
langkah awal pemilihan proyek yang ingin dibuat (Daryanto, 2014) sehingga
proyek yang dibuat oleh siswa dapat bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan
masyarakat atau lingkungan (Sani, 2014).
Pembelajaran
berbasis proyek memungkinkan siswa untuk melakukan aktivitas belajar saintifik
berupa kegiatan: (a) bertanya; (b) melakulkan pengamatan; (c) melakukan
penyelidikan atau percobaan; (d) menalar; dan (e) menjalin hubungan dengan
orang lain dalam upaya memperoleh informasi atau data (Sani, 2014). Karena
pembelajaran dengan PBL membutuhkan beberapa keterampilan dasar dan penguasaan
keterampilan khusus dalam proses pembuatan proyek.
Beberapa prinsip pembelajaran
berbasis proyek menurut Kurniasih dan Sani (2014), sbb:
1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang
melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata untuk memperkaya pelajaran
2) Tugas proyek menekankan pada kegiatan
penelitian berdasarkan suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam
pelajaran
3) Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara
otentik dan menghasilkan produk nyata yang telah dianalisis dan dikembangkan
berdasarkan tema/topik yang disusun dalam bentuk produk (laporan atau hasil
karya).
Kelebihan Pembelajaran
Berbasis Proyek
Menurut Sani (2014) beberapa keutamaan yang
diperoleh dengan menerapkan PjBL, yaitu;
1) Melibatkan siswa dalam permasalahan dunia
nyata
2) Membutuhkan proses inkuiri, penelitian,
keterampilan merencanakan, berpikir kritis, dan keterampilan menyelesaikan
masalah dalam upaya membuat proyek
3) Melibatkan siswa dalam belajar menerapkan
pengetahuan dan keterampilan
4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melatih keterampilan interpersonal;
5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melatih keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja (mengalokasikan
waktu, bertanggung jawab, belajar melalui pengalaman, dan sebagainya)
6) Mencakup aktivitas refleksi yang mengarahkan
siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman dan menghubungkan pengalaman
tersebut pada standar belajar.
Selain
itu, beberapa keuntungan lain menggunakan pembelajaran berbasis proyek menurut
Sani (2014) adalah sbb:
1) Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan
mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting
2) Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan
masalah yang kompleks
3) Membuat siswa lebih aktif
4) Meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja
sama
5) Mendorong siswa mempraktikkan keterampilan
berkomunikasi
6) Meningkatkatkan kemampuan siswa dalam
mengelola sumber daya
7) Memberi pengalaman kepada siswa
8) Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk
berkembang sesuai kondisi dunia nyata
9) Melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan
informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan
di dunia nyata
10) Membuat suasana
belajar menjadi menyenangkan.
Kelemahan
Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut Daryanto, (2014)
adalah:
· Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan
masalah
· Membutuhkan biaya yang cukup banyak
· Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas
tradisional, dimana guru memegang peran utama di kelas
· Banyak peralatan yang harus disediakan
· Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam
percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan
· Ada kemungkinan peserta didik yang kurang
aktif dalam kerja kelompok
· Ketika topik yang diberikan kepada
masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami
topik secara keseluruhan.
Langkah-Langkah
Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut
Sani (2014) perencanaan PjBL harus mencakup empat langkah harus mencakup
langkah penting berikut ini:
1) Pengelompokkan siswa untuk mengerjakan sebuah
proyek
2) Mengajukan pertanyaan kompleks dan mengarahkan
untuk mengerjakannya
3) Membuat rancangan, jadwal
perencanaan penyelesaian proyek, serta mempersentasikan proyek
4) Memberikan umpan balik dan penilaian atas
proyek yang telah dibuat.
Selain
itu, menurut Sani (2014) penerapan pembelajaran berbasis proyek harus dimulai
dari perencanaan pembelajaran yang memadai, yakni dengan mengikuti tahapan
sebagai berikut;
1) Menentukan materi proyek
2) Menentukan tujuan proyek
3) Mengidentifikasi keterampilan dan pengetahuan awal siswa
yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek
4) Menentukan kelompok belajar
5) Menentukan jadwal pelaksanaan proyek
6) Mengevaluasi sumber daya dan meterial yang akan digunakan
7) Menentukan cara evaluasi yang akan digunakan.
10 Model Pembelajaran Sains Terpadu (Robin Forgarty, 1991)
Ditinjau dari cara memadukan konsep,
keterampilan, topik, dan unit tematisnya, menurut seorang ahli yang
bernama Robin Fogarty (1991) terdapat sepuluh cara atau model
dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model tersebut
adalah:(1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared,
(6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10)
networked. Secara singkat kesepuluh cara atau model tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut.
1. Model Penggalan (Fragmented)
Model fragmented ditandai oleh ciri pemaduan
yang hanya terbatas pada satu mata pelajaran saja. Misalnya,
dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, materi pembelajaran tentang menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran
keterampilan berbahasa. Dalam proses pembelajarannya, butir-butir materi
tersebut dilaksanakan secara terpisah-pisah pada jam yang berbeda-beda.
Menurut Padmono dalam bukunya Pembelajaran
Terpadu melalui Kurikulum Terpadu dalam Satu Disiplin Ilmu, mengatakan
bahwa pembelajaran terpadu melalui kurikulum terpadu fragmented terjadi jika
seorang guru memiliki keinginan agar siswa setelah menempuh pembelajaran satu
kurun waktu tertentu memiliki kemampuan atau kecakapan tertentu. Kelebihan pembelajaran
model ini adalah siswa menguasai secara penuh satu kemampuan tertentu untuk
tiap mata pelajaran, ia ahli dan terampil dalam bidang tertentu.
Sedangkan kekurangannya adalah Ia belajar hanya pada tempat
dan sumber belajar dan kurang mampu membuat hubungan atau integrasi dengan
konsep sejenis.
2. Model Keterhubungan (Connected)
Model connected dilandasi oleh anggapan
bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata
pelajaran tertentu. Butir-butir pembelajaran kosakata, struktur, membaca
dan mengarang misalnya, dapat dipayungkan pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Penguasaan butir-butir pembelajaran tersebut merupakan keutuhan
dalam membentuk kemampuan berbahasa dan bersastra. Hanya saja pembentukan
pemahaman, keterampilan dan pengalaman secara utuh tersebut tidak berlangsung
secara otomatis. Karena itu, guru harus menatabutir-butir pembelajaran dan
proses pembelajarannya secara terpadu.
Kelebihan yang diperoleh dalam model connected ini adalah adanya
hubungan antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan memperoleh gambaran
yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan siswa diberi
kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi
gagasan secara bertahap. Kekurangan dalam model ini, model ini
belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan
bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
3. Model Sarang (Nested)
Model nested merupakan pemaduan
berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan
pembelajaran. Misalnya, pada satuan jam tertentu seorang guru memfokuskan
kegiatan pembelajaran pada pemahaman tata bentuk kata, makna kata, dan ungkapan
dengan saran pembuahan keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya
berpikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat
ungkapan dan menulis puisi. Pembelajaran berbagai bentuk penguasaan konsep dan
keterampilan tersebut keseluruhannya tidak harus dirumuskan dalam tujuan
pembelajaran.
Keterampilan dalam mengembangkan daya
imajinasi dan berpikir logis dalam hal ini disikapi sebagai bentuk keterampilan
yang tergarap saat siswa memakai kata-kata, membuat ungkapan dan mengarang
puisi. Penanda terkuasainya keterampilan tersebut dalam hal ini ditunjukkan
oleh kemampuan mereka dalam membuat ungkapan dan mengarang puisi.
Kelebihan model ini yaitu guru dapat memadukan beberapa keterampilan
sekaligus dalam pembelajaran satu mata pelajaran, memberikan perhatian pada
berbagai bidang penting dalam satu saat sehingga tidak memerlukan penambahan
waktu dan guru dapat memadukan kurikulum secara luas. Kekurangannya adalah
apabila taanpa perencanaan yang matang memadukan beberapa keterampilan yang
menjadi targget dalam suatu pembelajaran akan berdampak pada siswa dimana
prioritas pelajaran menjadi kabur.
4. Model Urutan/Rangkaian (Sequenced)
Model sequenced merupakan model
pemaduan topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel. Isi
cerita dalam roman sejarah misalnya, topik pembahasannya secara paralel atau
dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan bangsa,
karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun topik
yang menyangkut perubahan makna kata. Topik-topik tersebut dapat dipadukan
pembelajarannya pada alokasi jam yang sama.
Kelebihannya yaitu dengan menyusun kembali urutan topik, bagian dari
unit, guru dapat mengutamakan prioritas kurikulum daripada hanya mengikuti
urutan yang dibuat penulis dalam buku teks, membantu siswa memahami isi
pembelajaran dengan lebih kuat dan bermakna. Sedangkankekurangannya yaitu
diperlukkan kolaborasi berkelanjutan dan fleksibilitas semua orang yang
terlibat dalam content area dalam mengurutkan sesuai peristiwa
terkini.
5. Model Bagian (Shared)
Model shared merupakan bentuk pemaduan
pembelajaran akibat adanya “overlapping” konsep atau ide pada dua mata
pelajaran atau lebih. Butir-butir pembelajaran tentang kewarganegaraan
dalam PPKN misalnya, dapat bertumpang tindih dengan butir pembelajaran dalam
Tata Negara, PSPB, dan sebagainya.
Kelebihannya yaitu lebih mudah dalam menggunakannya sebagai langkah
awal maju secara penuh menuju model terpadu yang mencakup empat disiplin ilmu,
dengan menggabungkan disiplin ilmu serupa yang saling tumpang tindih akan
memungkinkan mempelajari konsep yang lebih dalam. Sedangkan kekurangannya yaitu
model integrasi antar dua disiplin ilmu memerlukan komitmen pasangan untuk
bekerjasama dalam fase awal, untuk menemukan konsep kurikula yang tumpang
tindih secara nyata diperlukan dialog dan percakapan yang mendalam.
6. Model Jaring Laba-laba (Webbed)
Selanjutnya, model yang paling populer adalah
model webbed. Model ini bertolak dari pendekatan tematis sebagai
pemadu bahan dan kegiatan pembelajaran. Dalam hubungan ini tema dapat mengikat
kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran tertentu maupun lintas mata
pelajaran.
Kelebihan pendekatan jaring laba-laba untuk mengintegrasikan
kurikulum adalah faktor motivasi sebagai hasil bentuk seleksi tema yang menarik
perhatian paling besar, faktor motivasi siswa juga dapat berkembang karena
adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat siswa. Sedangkan kekurangan model
ini adalah banyak guru sulit memilih tema. Mereka cenderung menyediakan tema
yang dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi siswa, dan guru seringkali terfokus
pada kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi terabaikan.
7. Model Galur/ benang(Threaded)
Model threaded merupakan model pemaduan
bentuk keterampilan misalnya, melakukan prediksi dan estimasi dalam
matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap cerita
dalam novel, dan sebagainya. Bentuk threaded ini berfokus pada apa yang diesbut
meta-curriculum.
Kelebihan dari model ini antara lain: konsep berputar sekitar
metakurikulum yang menekankan pada perilaku metakognitif; materi untuk tiap
mata pelajaran tetap murni, dan siswa dapat belajar bagaimana seharusnya
belajar di masa yang akan datang sesuai dengan laju perkembangan era
globalisasi. Sedangkan kekurangan yaitu hubungan isi antar
materi pelajaran tidak terlalu ditunjukkan sehingga secara eksplisit siswa
kurang dapat memahami keterkaitan konten antara mata pelajaran satu dengan yang
lainnya.
8. Model Keterpaduan (Integrated)
Model integrated merupakan pemaduan
sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama
dalam sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula terdapat dalam mata
pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Pengetahuan Alam, dan Pengetahuan
Sosial, agar tidak membuat muatan kurikulum berlebihan cukup diletakkan dalam
mata pelajaran tertentu, misalnya Pengetahuan Alam. Contoh lain, dalam teks
membaca yang merupakan bagian mata pelajaran.
Bahasa Indonesia, dapat dimasukkan butir
pembelajaran yang dapat dihubungkan dengan Matematika, Pengetahuan Alam, dan
sebagainya. Dalam hal ini diperlukan penataan area isi bacaan yang lengkap
sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai butir pembelajaran dari
berbagai mata pelajaran yang berbeda tersebut. Ditinjau dari penerapannya,
model ini sangat baik dikembangkan di SD.
Kelebihan dari model ini yaitu siswa saling mengaitkan, saling
menghubungkan diantara macam-macam bagian dari mata pelajaran. Keterpaduan
secara sukses diimplementasikan, pendekatan belajar yang lingkungan belajar
yang ideal untuk hari terpadu (integrated day) secara eksternal dan
untuk keterpaduan belajar untuk fokus internal. Selain itu model ini juga
mendorong motivasi murid. Sedangkan kekurangan yaitu model ini
sulit dilaksanakan secara penuh; membutuhkan keterampilan tinggi,percaya diri
dalam prioritas konsep, keterampilan dan sikap yang menembus secara urut dari
mata pelajaran; dan membutuhkan model tim ahli pada bidang dan merencanakan dan
mengajar bersama.
9. Model Celupan/Terbenam (Immersed)
Model immersed dirancang untuk membantu siswa
dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan
dengan medan pemakaiannya. Dalam hal initukar pengalaman dan pemanfaatan
pengalaman sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Kelebihan dari model ini adalah setiap siswa mempunyai ketertarikan
mata pelajaran yang berbeda maka secara tidak langsung siswa yang lain akan
belajar dari siswa lainnya. Mereka terpacu untuk dapat menghubungkan mata
pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan kekurangandari
model ini adalah siswa yang tidak senang membaca akan mendapat kesulitan untuk
mengerjakan proyek ini, sehingga siswa menjadi kehilangan minat belajar.
10. Model Jaringan (Networked)
Terakhir, model networked merupakan model
pemaduan pembelajaran yang mengandaikankemungkinan pengubahan konsepsi,
bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah
siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang
berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara
terus-menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan
kenyataan yang dihadapi siswa. Kelebihandari model ini adalah siswa
memperluas wawasan pengetahuan pada satu atau dua mata pelajaran secara
mendalam dan sempit sasarannya. Sedangkan kekurangannya adalah
kemungkinan motivasi siswa akan berubah kedalaman materi pelajaran menjadi
dangkal secara tidak sengaja karena mendapat hambatan dalam mencari sumber.
(sumber: Robin Fogarty. 1991. How to Integrate the Curricula.
Illinois: Skylight Publishing
1.
Dari
ke 4 model pembelajaran sains di atas, adakah model pembelajaran lain yang
cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran sains di Indonesia? Jika ada, mohon
penjelasannya?
2.
Menurut
Anda, manakah model pembelajaran khusus sains yang paling sering digunakan di
sekolah-sekolah khususnya di Provinsi Jambi? Berikan alasannya?
3.
Seandainya
Anda adalah seorang guru sains yang mengajar di daerah terpencil dengan
keterbatasan fasilitas sarana dan prasarana. Apa yang dapat Anda Lakukan demi
penyetaraan pendidikan di daerah Anda dengan dengan daerah maju lainnya?
Saya akan menyikapi pertaanyaan no 1.?
BalasHapusTentu nya ada tetapi tidak semua model pembelajaran cocok atau tepat diterapakan pada setiap mata pelajaran karena ada model pembelajaran yang memang hanya cocok untuk diterapkan pada mata pelajaran tertantu. sehingga guru dalam memilih model pembelajaran tertentu harus sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang akan diajarkan.begitu banyak namun tidak semua model pembelajaran cocok atau tepat diterapakan pada setiap pembelajaran yang memang hanya cocok untuk diterapkan pada mata pelajaran tertantu. sehingga guru dalam memilih model pembelajaran tertentu harus sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang akan diajarkan.
Yaitu Pembelajaran lain yang cocok 1. Model Pembelajaran Kontekstual yaitu pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
2.Model Pembelajaran Kolaboratif
Ciri-ciri dari Model Pembelajaran Kolaboratif yaitu adanya kerja sama dua orang atau lebih, memecahkan masalah bersama.
Terimakasih artikelnya buk..sangat padat pembahasannya. Pertanyaan terakhir penulis membuat saya tertarik untuk saling berdiskusi 😊
BalasHapusJadi begini, kita pasti tau bahwa sarana prasarana didaerah terpencil dan perkotaan jelas berbeda, mulai dari ketersediaan jaringan internet,sarana sekolah, alat praktek dll. Namun itulah tantangan bagi guru. Guru yg profesional dengan segala kualitasnya pasti bisa berusaha untuk menyeimbangakan kualitas siswanya. Pertama, dalam artikel diatas kita sedang membahas model pembelajaran, maka menurut saya gunakanlah model yg tepat sesuai dengan sara prasarana yg ada serta materi yg diajarkan. Selanjutnya gunakan potensi yg ada disekitar lingkungan untuk memaksimalkan PBM. Latih siswa utk kreatif,aktif, serta kritis dalam pembelajaran sehingga kita dapat menyetarakan kualitas kita dgn sekolah yg ada diperkotaan. Terimakasih
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan no 3..
Kalau menurut saya tentu saja jauh sangat berbeda antara di desa terpencil dengan di kota-kota besar.
Disini lah kreativitas dari seorang guru di perlukan.sarana dan prasarana di desa terpencil sangat minim, saya rasa seorang guru harus kreatif.kalau biasa nya di kota menggunakan laptop dan lcd proyektor d desa bisa menggunakan gambar untuk d tempel atau guru bisa menampilkan video offline.sekali2 siswa bisa langsung di ajak belajar langsung di lapangan sesuai dengan model pembelajaran yang di gunakan guru.
Terima kasih
terima kasih artikelnya. menjawab nomor 3. Seandainya Anda adalah seorang guru sains yang mengajar di daerah terpencil dengan keterbatasan fasilitas sarana dan prasarana. Apa yang dapat Anda Lakukan demi penyetaraan pendidikan di daerah Anda dengan dengan daerah maju lainnya?
BalasHapusjawabannya guru dalam konteksnya haruslah kreatif. di waktu menjadi calon guru di sebuah unversitas ada mata kuliah strategi belajar mengajar. ini menempah calon pendidik menjadi guru yang kreatif dikondisi manapun. sejalan dengan hal tersebut ada namanya model,strategi dan metode. ini merupakan jalan mempermudah proses pembelajaran yang dirangkum/di gambarkan dlam pembelajaran. dan dituangkan dlam RPP. inilah proses penyetaraan pembelajaran untuk fasilitas sarana dan prasarana yang kurang memadai di sekolah tersebut.
Menanggapi pertanyaan nomor 3. Seandainya Anda adalah seorang guru sains yang mengajar di daerah terpencil dengan keterbatasan fasilitas sarana dan prasarana. Apa yang dapat Anda Lakukan demi penyetaraan pendidikan di daerah Anda dengan dengan daerah maju lainnya?
BalasHapusSebenarnya keterbatasan sarana dan prasarana bukanlah kendala dalam mengajar. Model pembelajaran dirancang untuk memudahkan guru dan memaksimalkan proses pembelajaran. Maka guru yang kreatif pasti memiliki strategi dan teknik yang tepat agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik,.
menanggapi pertanyaan No 3. kalau menurut saya penyetaraan dari segi diakui dan diberi fasilitas oleh pemerintah mungkin masih memiliki waktu yang panjang dan jalan yang berliku, hanya saja untuk mengatasi proses pembelajaran mungkin saya akan memanfaatkan keadaan alam atau lingkungan sekitar guna menunjang keberhasilan dan penerapan model pembelajaran sains yang akan dilakukan, karna kita bisa kembali ke alam dengan kata lain memanfaatka lingkungan sekitar
BalasHapussharing untuk pertanyaan nomor 3 buk ema, jika menemukan kondisi seperti tersebut diatas maka guru dapat menggunakan model project based learning yang mana Melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata, kita dapat mengemukakan masalah yang ada disekitaranya, contohnya saja dalam pembelajaran biologi guru dapat menggunakan tumbuh2m disekitar sekolah untuk mempelajari keaneka ragaman hayati, terimaksih.
BalasHapusAssalamualaikum.
BalasHapusSaya mencoba menjawab pertanyaan nomr 3.
Saya akan menggunakan model pembelajaran dengan memanfaatkan alam sekitar, keunggulan pembelajaran denganenggunakan alam sekitar, peserta didik lebih memahami dan mengetahui langsung objek dari materi pembelajaran yang dipelajari.