EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DALAM
PEMBELAJARAN SAINS
A.
Pengertian
Pembelajaran Quantum merupakan istilah terjemahan dari bahasa
asing yaitu quantum learning. Menurut
Deporter, dkk (2010), quantum learning adalah penggubahan bermacam-macam
interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi
ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan
siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa
menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan bagi orang
lain.
Pembelajaran quantum merupakan model
pembelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala dinamika yang menunjang
keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan,
interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum untuk belajar.
Menurut Deporter, ddk (2010), pembelajaran quantum hampir sama dengan
sebuah simfoni yang di dalamnya banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman yang
mewarnai hasil akhir yang indah.
Model
Pembelajaran Quantum adalah model yang digunakan dalam rancangan, penyajian
dalam belajar yang dirangkai menjadi sebuah paket yang multi sensoris, multi
kecerdasan, dan kompatibel dengan otak, mencakup petunjuk yang spesifik untuk
menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan
isi, dan memudahkan proses belajar. Segalanya dari lingkungan kelas hingga
bahasa tubuh, dan kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran
semuanya mengirim pesan tentang belajar, semua yang terjadi dalam perubahan
kita mempunyai tujuan, otak berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks,
yang akan digerakkan rasa ingin tahu, sehingga proses belajar paling baik
terjadi jika siswa telah mengalami informasi sebelum memperoleh nama untuk apa
mereka pelajari, siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan
diri mereka, perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan
asosiasi dengan belajar (DePorter, 2000:38).
B. Tujuan
model quantum
Ø untuk menciptakan
lingkungan belajar yang efektif.
Ø menciptakan proses
belajar yang menyenangkan.
Ø menyesuaikan
kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
Ø
untuk
membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir dan untuk membantu mempercepat
dalam pembelajaran
C.
Kerangka
rancangan belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai
TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan)
Tumbuhkan
Tahap menumbuhkan minat
siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini, guru
berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses belajar. Motivasi yang kuat
membuat siswa tertarik untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap
tumbuh bisa dilakukan untuk menggali permasalahan terkait dengan materi yang
akan dipelajari, menampilkan suatu gambaran atau benda nyata, cerita pendek
atau video.
Alami
Alami merupakan tahap
ketika guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman yang dapat dimengerti
semua siswa. Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
pengetahuan awal yang telah dimiliki. Selain itu, tahap ini juga untuk
mengembangkan keinginantahuan siswa. Tahap alami bisa dilakukan dengan
mengadakan pengamatan.
Namai
Tahap namai merupakan tahap
memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi atasp pengalaman
yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini siswa dengan bantuan guru berusaha
menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati. Tahap penamaan memacu
struktur kognitif siswa untuk memberikan identitas, menguatkan, dan
mendefinisikan atas apa yang telah dialaminya. Proses penamaan dibangun atas
pengetahuan awal dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan merupakan saat
untuk mengajarkan konsep kepada siswa. Pemberian nama setelah pengalaman akan
menjadi sesuatu lebih bermakna dan berkesan bagi siswa. Untuk membantu penamaan
dapat digunakan susunan gambar, warna alat bantu, kertas tulis, dan poster
dinding.
Demonstrasikan
Tahap demontrasi memberikan
kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke
dalam kehidupan mereka. Tahap ini menyediakan kesempatan kepada siswa untuk
menunjukan apa yang mereka ketahui. Tahap demonstrasi bisa dilakukan dengan
penyajian di depan kelas, permainan, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan hasil
pekerjaan.
Ulangi
Pengulangan akan memperkuat
koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin sering
dilakukan pengulangan, pengetahuan akan semakin mendalam. Bisa dilakukan dengan
menegaskan kembali pokok materi pelajaran, member kesempatan siswa untuk
mengulang pelajaran dengan teman lain atau melalui latihan soal.
Rayakan
Rayakan merupakan wujud
pengakuan untuk menyelesaikan partisipasi dan memperoleh keterampilan dalam
ilmu pengetahuan. Bisa dilakukan dengan pujian, tepuk tangan, dan bernyanyi bersama.
D. Prinsip-prinsip
pembelajaran kuantum
1. Segalanya berbicara artinya
segala dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, rancangan pelajaran semua
mengirimkan pesan tentang belajar;
2. Segalanya bertujuan artinya semua yang terjadi
dalam pengubahan mempunyai tujuan;
3. Pengalaman sebelum
pemberian nama artinya proses belajar yang paling baik terjadi ketika siswa
telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka
mempelajarinya;
4. Mengakui setiap usaha artinya pada saat siswa
belajar, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri
mereka;
5. Jika layak dipelajari, maka
layak pula dirayakan artinya perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan
dan meningkatkan sikap positif siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
E. Azas
Utama Model Pembelajaran Quantum
Menurut Deporter (2010), azas utama pembelajaran quantum
adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia
Mereka”. Maksud dari konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia
Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” adalah
bahwa pentingnya memasuki dunia peserta didik sebagai langkah
pertama yang harus dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
Memasuki dunia peserta didik dapat dilakukan dengan
membangun jembatan autentik memasuki kehidupan siswa, untuk mendapatkan hak
mengajar dari mereka.Caranya yaitu dengan mengaitkan apa yang diajarkan guru
dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah,
sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademik
siswa. Setelah kaitan terbentuk, guru dapat menerapkan konsep “Bawalah
Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Dalam konteks inilah materi pembelajaran
dipaparkan, misalnya: kosa kata baru, model mental, rumus, dan lain-lain.
F. Karakteristik
Model Pembelajaran Quantum
Budiman (2013) menuliskan beberapa karakteristik umum
yang tampak membentuk sosok Quantum Learning sebagai berikut:
1. Berpangkal
pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah
dan konsep kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran,
belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari
berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum. Dapat dikatakan
disini bahwa Quantum Learning tidak berkaitan erat
dengan fisika kuantum, kecuali analogi beberapa konsep kuantum. Hal ini
membuatnya lebih bersifat kognitif daripada fisis.
2.
Lebih
bersifat humanistis, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya.
Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar
diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal. Hadiah dan hukuman
dipandang tidak ada karena semua usaha yang dilakukan manusia patut dihargai,
kesalahan dipandang sebagai gejala manusiawi. Ini semua menunjukkan bahwa
keseluruhan yang ada pada manusia dilihat dalam perspektif humanistis.
3.
Lebih bersifat
konstruktivistis, nuansa konstruktivisme dalam Quantum Learningrelatif
kuat. Malah dapat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning merupakan
salah satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme
sosial. Meskipun demikian, berbeda dengan konstruktivisme kognitif lainnya yang
kurang begitu mengedepankan atau mengutamakan lingkungan, Quantum
Learning justru menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam
mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal dan memudahkan keberhasilan
tujuan pembelajaran.
4.
Berupaya memadukan
(mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri
manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks
pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini bahwa Quantum
Learning tidak memisahkan dan tidak membedakan antara apa yang di
dalam dan apa yang di luar. Dalam pandangan Quantum Learning,
lingkungan fisikal, mental dan kemampuan pikiran atau diri manusia sama-sama
pentingnya dan saling mendukung. Karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan
pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh
stimulan yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
5.
Memusatkan perhatian
pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna. Dapat
dikatakan bahwa interaksi telah menjadi kata kunci dan konsep sentral
dalam Quantum Learning. Karena itu, Quantum Learning memberikan
tekanan pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi yang
bermutu dan bermakna. Di sini proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan
interaksi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan
pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya-cahaya yang bermanfaat bagi
keberhasilan pembelajar. Interaksi yang tidak mampu mengubah energi menjadi
cahaya harus dihindari, kalau perlu dibuang jauh dalam proses pembelajaran.
Dalam kaitan inilah komunikasi menjadi sangat penting dalam Quantum
Learning.
6.
Sangat menekankan pada
pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini
pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan kuantum. Pendeknya,
menurut Quantum Learning, proses pembelajaran harus berlangsung
cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan yang
dapat melambatkan proses pembelajaran harus disingkirkan, dihilangkan, atau
dieliminasi. Di sini berbagai kiat, cara, dan teknik dapat dipergunakan,
misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan, lingkungan yang
nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan sebagainya. Jadi, segala sesuatu
yang menghalangi pemercepatan pembelajaran harus dihilangkan pada satu sisi dan
pada sisi lain segala sesuatu yang mendukung pemercepatan pembelajaran harus
diciptakan dan dikelola sebaik-baiknya.
7.
Sangat menekankan
kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau
keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman,
segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan dan
kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan. Karena itu,
pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi sedemikian
rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses pembelajaran yang alamiah
dan wajar. Di sinilah para perancang dan pelaksana pembelajaran harus bekerja
secara proaktif dan suportif untuk menciptakan kealamiahan dan kewajaran proses
pembelajaran.
8.
Quantum Learning sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan
proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu
membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sebab itu,
segala upaya yang memungkinkan terwujudnya kebermaknaan dan kebermutuan
pembelajaran harus dilakukan oleh pengajar atau fasilitator. Dalam hubungan
inilah perlu dihadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi
pembelajar, terutama pengalaman pembelajar perlu diakomodasi secara memadai.
Pengalaman yang asing bagi pembelajar tidak perlu dihadirkan karena hal ini
hanya membuahkan kehampaan proses pembelajaran. Untuk itu, dapat dilakukan
upaya membawa dunia pembelajar ke dalam dunia pengajar pada satu pihak dan pada
pihak lain mengantarkan dunia pengajar ke dalam dunia pembelajar. Hal ini perlu
dilakukan secara seimbang.
9.
Memiliki model yang
memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana
yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau
mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Isi pembelajaran meliputi
penyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar untuk
belajar, dan keterampilan hidup. Konteks dan isi ini tidak terpisahkan, saling
mendukung, bagaikan sebuah orkestra yang memainkan simfoni. Pemisahan keduanya
hanya akan membuahkan kegagalan pembelajaran. Kepaduan dan kesesuaian keduanya
secara fungsional akan membuahkan keberhasilan pembelajaran yang tinggi;
ibaratnya permainan simfoni yang sempurna yang dimainkan dalam sebuah orkestra.
10.
Memusatkan perhatian pada
pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal
atau material. Ketiganya harus diperhatikan, diperlakukan, dan dikelola secara
seimbang dan relatif sama dalam proses pembelajaran, tidak bisa hanya salah
satu di antaranya. Dikatakan demikian karena pembelajaran yang berhasil bukan
hanya terbentuknya keterampilan akademis dan prestasi fisikal pembelajar, namun
lebih penting lagi adalah terbentuknya keterampilan hidup pembelajar. Untuk
itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat terwujud kombinasi
harmonis antara keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi
fisikal.
11.
Menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting
proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran
kurang bermakna. Untuk itu, pembelajar harus memiliki nilai dan keyakinan
tertentu yang positif dalam proses pembelajaran. Di samping itu, proses
pembelajaran hendaknya menanamkan nilai dan keyakinan positif dalam diri
pembelajar. Nilai dan keyakinan negatif akan membuahkan kegagalan proses
pembelajaran. Misalnya, pembelajar perlu memiliki keyakinan bahwa kesalahan
atau kegagalan merupakan tanda telah belajar; kesalahan atau kegagalan bukan
tanda bodoh atau akhir segalanya. Dalam proses pembelajaran dikembangkan nilai
dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah (punishment dan reward)
tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. Nilai dan
keyakinan positif seperti ini perlu terus-menerus dikembangkan dan dimantapkan.
Makin kuat dan mantap nilai dan keyakinan positif yang dimiliki oleh
pembelajar, kemungkinan berhasil dalam pembelajaran akan makin tinggi.
12.
Mengutamakan keberagaman
dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan
dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi. Di sinilah perlunya diakui
keragaman gaya belajar siswa atau pembelajar, dikembangkannya
aktivitas-aktivitas pembelajar yang beragam, dan digunakannya bermacam-macam
kiat dan metode pembelajaran. Pada sisi lain perlu disingkirkan penyeragaman gaya
belajar pembelajar, aktivitas pembelajaran di kelas, dan penggunaan kiat dan
metode pembelajaran.
13.
Mengintegrasikan
totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara
tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan
hasilnya lebih optimal.
G. Langkah-Langkah
Model Pembelajaran Quantum
1. Pengkondisian awal
Tahap ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental siswa
mengenai model pembelajaran kuantum yang menuntut keterlibatan aktif siswa.
Melalui pengkondisian awal akan memungkinkan dilaksanakannya proses
pembelajaran yang lebih baik. Kegiatan yang dilakukan dalam pengkondisian awal
meliputi: penumbuhan rasa percaya diri
siswa, motivasi diri, menjalin hubungan, dan ketrampilan belajar.
2. Penyusunan
rancangan pembelajaran
Tahap ini sama artinya dengan dengan tahap persiapan
dalam pembelajaran biasa. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah
penyiapan alat dan pendukung lainnya, penentuan kegiatan selama proses belajar
mengajar, dan penyusunan evaluasi.
3. Pelaksanaan metode pembelajaran kuantum
Tahap ini merupakan inti penerapan model pembelajaran kuantum.
Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R: penumbuhan minat, pemberian
pengalaman umum, penamaan atau penyajian materi, demonstrasi tentang
pemerolehan pengetahuan oleh siswa, pengulangan yang dilakukan oleh siswa,
perayaan atas usaha siswa.
4. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan terhadap proses dan produk untuk
melihat keefektifan model pembelajaran yang digunakan. Langkah- langkah
pembelajaran metode pembelajaran ceramah bermakna dan dilaksanakan dengan
tahap- tahap:
1). Guru mengecek pengetahuan
siswa tentang materi yang akan diajarkan
2).
Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan
metode ceramah, di sini siswa mendengarkan apa yang disampaikan
guru dan mencatat hal-hal yang penting di buku tulis.
3). Guru memberikan
contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada siswa tentang materi..
4). Guru memberikan latihan soal atau memberi
pekerjaan rumah.
5). Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil
pekerjaan siswa dan mengambil kesimpulan.
6). Guru mengadakan
evaluasi.
H.
KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN MODEL QUANTUM
Kelebihan
1. Dapat membimbing peserta
didik kearah berfikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2. Karena Quantum Teaching
lebih melibatkan siswa, maka saat proses pembelajaran perhatian murid dapat
dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang
penting itu dapat diamati secara teliti.
3. Karena gerakan dan proses
dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
4. Proses pembelajaran menjadi
lebih nyaman dan menyenangkan.
5. Siswa dirangsang untuk
aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba
melakukannya sendiri.
6. Karena model pembelajaran
Quantum Teaching membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang
keinginan bawaan siswa untuk belajar, maka secara tidak langsung guru terbiasa
untuk berfikir kreatif setiap harinya.
7. Pelajaran yang diberikan
oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.
Kekurangan
1. Model ini memerlukan
kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup
panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.
2. Fasilitas seperti
peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3. Karena dalam metode ini ada
perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan,
jentikan jari, nyanyian dll. Maka dapat mengganggu kelas lain.
4. Banyak memakan waktu dalam
hal persiapan.
5. Model ini memerlukan
keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang hal itu, proses
pembelajaran tidak akan efektif.
6. Agar belajar dengan model
pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran.
Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan. Sehingga apa yang
diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.
DARI ARTIKEL DI ATAS, SAYA INGIN MENGAJAK PEMBACA UNTUK BERDISKUSI
DENGAN MENJAWAB BEBERAPA PERTANYAAN BERIKUT :
1.
SEJAUH MANA EFEKTIFITAS MODEL QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI
INDONESIA ?
2.
PADA TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN APAKAH YANG PALING COCOK UNTUK MENERAPKAN MODEL QUANTUM, APAKAH DI SD, SMP ATAU SMA, JELASKAN MENGAPA
DEMIKIAN?
3.
DAPATKAH SEORANG GURU MUDA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DI
SEKOLAHNYA?