Kamis, 01 Februari 2018

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF



MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS

Model Pembelajaran Kontekstual dan Model pembelajaran Kolaboratif
A.               Model Pembelajaran Kontekstual/Contekstual Teaching Learning (CTL)
Menurut Johnson, 2003 yang dimaksud dengan Contekstual teaching and learning (CTL) adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa memahami makna yang ada pada bahan ajar yang mereka pelajari dengan menghubungkan pelajaran dalam konteks kehidupan sehari-harinya dengan konteks kehidupan pribadi, sosial dan cultural yang mencakup 8 komponen: membuat hubungan yang bermakna, melahirkan kegiatan yang signifikan, belajar sendiri secara teratur, kolaborasi, berfikir kritis dan kreatif, mencapai standar tinggi dan menggunakan penilaian otentik.
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukupmudah.  
Ciri Kelas Yang Menggunakan Pendekatan Kontekstual
  • Pengalaman nyata
  • Kerjasama saling menunjang
  • Gembira belajar dengan bergairah
  • Pembelajaran terintegrasi
  • Menggunakan berbagai sumber
  • Siswa aktif dan kritis
  • Menyenangkan tidak membosankan
  • Sharing dengan teman
  • Guru kreatif


Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual
  • Memilih tema
  • Menentukan konsep-konsep yang dipelajari
  • Menentukan kegiatan-kegiatan untuk investigasi konsep-konsep terdaftar
  • Menentukan mata pelajaran terkait (dalam bentuk diagram)
  • Mereview kegiatan-kegiatan & mata pelajaran yang terkait
  • Menentukan urutan kegiatan
  • Menyiapkan tindak lanjut
Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual

a.  Konstruktivisme yaitu membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal bukan menerima pengetahuan.
b. Inquiry yaitu siswa belajar menggunakan keterampilan berfikir kritis dan terjadi perpindahan pengamatan menjadi pemahaman.
c.  Questioning (Bertanya) .
Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
d.  Learning Community (Masyarakat Belajar) .Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar, bertukar fikiran dan pengalaman.
e. Modeling (Pemodelan) .Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar. Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
f. Reflection ( Refleksi) .Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Mencatat apa yang telah dipelajari. Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
g. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Penilaian produk (kinerja). Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

1. Kerjasama
2. Saling menunjang
3. Menyenangkan, tidak membosankan
4. Belajar dengan bergairah
5. Pembelajaran terintegrasi
6. Menggunakan berbagai sumber
7. Siswa aktif
8. Sharing dengan teman
9. Siswa kritis guru kreatif
10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor
dan lain-lain
11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
pratikum, karangan siswa dan lain-lain


B.               Model Pembelajaran Kolaboratif

Menurut para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University terdapat 10 macam Pembelajaran Kolaboratif, yaitu :

  1. Learning Together. Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
  2. Teams-Games-Tournament (TGT). Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
  3. Group Investigation (GI). Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
  4. Academic-Constructive Controversy (AC). Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
  5. Jigsaw Proscedure (JP). Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
  6. Student Team Achievement Divisions (STAD). Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
  7. Complex Instruction (CI). Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
  8. Team Accelerated Instruction (TAI). Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
  9. Cooperative Learning Stuctures (CLS).Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
  10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.

Menurut Piaget dan Vigotsky, Strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:
1.      Teori Kognitif. Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2.      Teori Konstruktivisme Sosial. Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan  individu dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semu anggota semua kelompok.
3.      Teori Motivasi. Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
Adapun  tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
  1. Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
  2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
  3. Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
  4. Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
  5. Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.
  6. Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
  7. Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
  8. Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
  9. Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
Adapun  Langkah-langkah dalam pembelajaran Kolaboratif adalah sebagai berikut :
  1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
  2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
  3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
  4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
  5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
  6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
  7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
  8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative learning ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1.      Engagement. Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2.      Exploration. Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3.      Transformation. Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang prestasinya rendah.
4.      Presentation. Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5.      Reflection. Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1.      The two-person group (tutoring) Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2.      The small group (interactive recitation; discussion) Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3.      Small or large group (recitation) Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
  1. Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
  2. Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
  3. Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
  4. Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
  5. Peran guru sebagai mediator.
  6. Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
  7. pengelompokkan secara heterogen.
Model pembelajaran kolaboratif memiliki kelebihan yaitu siswa belajar bermusyawarah dan bekerjasama sehingga mampu menghargai pendapat orang lain. selain itu siswa juga dapat mengembangkan cara berfikir kritis dan rasional dan bersaing secara serat. Sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan waktu yang lama, terkadang pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari tema sehingga sulit untuk membuat kesimpulan. Selain itu adanya sifat ingin menonjolkan diri atau bahkan merasa rendah diri dan selalu tergantung kepada orang lain.


Pertanyaan :
Anggaplah diri Anda sebagai seorang guru yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar menggunakan model pembelajaran kolaboratif. Ada beberapa kelemahan dari model pembelajaran kolaboratif ini diantaranya :

1.      Membutuhkan waktu yang lama.
2.       Terkadang pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari tema sehingga sulit untuk membuat kesimpulan.
3.       Selain itu adanya sifat ingin menonjolkan diri atau bahkan merasa rendah diri dan selalu tergantung kepada orang lain.

Menurut  Anda, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut?


8 komentar:

  1. Assalamulaikum Wr wb

    Menurut para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University terdapat 10 macam Pembelajaran Kolaboratif...? Apakah 10 model itu bisa membantu peserta didik dalam memecahkan masalah di saat proses belajar itu terjadi

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum..
    Saya mencoba menjawab pertanyaan dari saudari..
    Setelah saya baca ulasan diatas, saya lihat bahwa model kolaboratif ini mempunyai kelebihan yaitu anak didik belajar dalam kelompok kecil, jadi disini anak didik bksa belajar bermusyawarah dan berdiskusi sehingga mereka bisa lebih terampil dan berpikir kritis bahkan dapat menghargai pendapat orang lain..
    Kalau pendapat siswa mulai menyimpang guru harus bisa membimbin mereka,disini kita ajar mereka untuk berkerja sama supaya tidak ada rasa minder dalam diri anak didik.

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas ulasannya yang menarik Bu Ema.
    saya akan menanggapi pertanyaan dari Bu Ema,
    bagaimana solusi untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam menggunakan model pembelajaran kalaboratif?.
    setiap model pembelajaran pastinya ada kelebihan dan kekurangan. jika ternyata model pembelajaran tersebut malah menghambat/melenceng dari proses KBM, tentunya disana lah peran guru dimainkan, guru harus bisa mengarahkan siswa selama proses KBM. guru harus mengingatkan siswa jika siswa telah keluar dari jalur. guru juga mungkin harus mmemberikan apresiasi/reward kepada siswa yang bisa menyimpulkan pelajaran hari itu, sehingga semua siswa bisa antusias dan aktiv mengikuti jalannya pembelajaran.
    terima kasih.

    BalasHapus
  4. Terimakasih info nya... terkait kolaborasi. Bagaimana penerapan nya dalam masing2 jwnjang pendidikan? Tks

    BalasHapus
  5. Terima Kasih atas ulasannya sangat bermanfaat
    Pendapat Saya setiap model mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Untuk mengatasi kelemahan model pembelajaran kolaboratif tersebut diperlukan inisiatif guru untuk membimbing dan mengarahkan siswa agar tidak menyimpang dari tema pembelajaran. Guru selalu memberikan motivasi kepada siswa agar menumbuhkan percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya.

    BalasHapus
  6. .. disini juga dituntut kecakapan guru dalam mengaplikasikan model dengan pilihn materi yang sesuia.. pemilihan strategi..hingga pemilihan media dan sumber belajar.

    BalasHapus
  7. Saya menanggapi pertanyaan nomor 3, dimana jika terdapat siswa yg terlalu mendominasi ataupun ada siswa yang terlalu rendah diri maka peran guru sebagai motivator dan fasilitator lah yang mengarahkan siswa selama proses pembelajaran, untuk mengatasi hal tersebut guru bisa membagi kelompok dgn menyeimbangkan kemampuan siswa yang ada didalam kelompok2 tersebut

    BalasHapus
  8. Saya mencoba menjawab pertanyaan dari saudari Ema Faorika, sepertinya setiap metode memiliki keinggukeu dan kelemahan. Namun hal yg menyangkut kelemahan dari metode tersebut dapat teratasi dengan berbagai cara yang efektif seperti pemberian literasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran ataupun lebih lanjut seperti penggunaan media tayang yang interaktif dan mengarahkan secara khusus ke materi, sehingga dalam pembahasan ketika membuat kesimpulan peserta didik tidak melenceng dari pokok bahasan. Nah dalam hal ini jelas Guru sebagai fasilitator pembelajaran harus berperan aktif mengarahkan peserta didik agar tidak keluar jalur.
    Untuk yang ketiga , Sifat indivualisme dalam setiap kelompok itu pasti selalu ada dan tugas guru untuk mengarahkan dan membagi kelompok menjadi seimbang dan merata.

    Salam

    FERRY ALIF ZAHRAN

    BalasHapus