SISTEM PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Era globablisasi, telah mempengaruhi
berbagai tatanan kehidupan umat manusia saat ini. Oleh sebab itu, pengaruh
globalisasi tidak bisa dihindari. Perlakuan yang paling arif adalah bagaimana
globalisasi, termasuk kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini,
disikapi sehingga membuahkan manfaat bagi umat manusia.
Globalisasi bukan berarti persaingan
antar bangsa dalam arti sempit. Globalisasi bukan pula penindasan sikuat kepada
si lemah, akan tetapi merupakan pranata baru antar bangsa yang berpijak pada
semangat kebersamaan guna kehidupan masyarakat yang lebih baik. Ditengah
pesimisme konflik kepentingan antar bangsa dibeberapa belahan dunia, ternyata
globalisasi menjanjikan nuansa baru bagi kehidupan yang lebih arif dengan
berlandaskan kebersamaan, saling menghormati,dan saling membutuhkan.
Naisbitt dan Patricia dalam Wahyudin
dkk (2007:2.26), merinci beberapa kosekuensi logis adanya globalisasi dibidang
pendidikan antara lain:
1. Dalam
globalisai, sistem nilai dan filsafat merupakan posisi kunci dalam garapan
pendidikan nasional. Semua Negara menempatkan sistem nilai dan etika sebagai
landasan utama dalam merancang kurikulum nasionalnya.
2. Globalisasi
menuntut adanya angkatan kerja yang berkualifikasi dan berpendidikan. Dalam
masyarakat informasi, lapangan kerja terutama dialamatkan pada mereka yang
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang berlatar pendidikan yang memadai.
Sebaliknya, mereka yang miskin keterampilan dan tuna pendidikan, akan berderet
mengisi barisan pengangguran atau sebagai kelompok pekerja dengan upah minim.
3. Kerja sama
pendidikan mutlak diperlukan.kerjasama internasional dibidang pendidikan adalah
sisi lain daripada kosekuensi globalisasi. Bantuan dana, tenaga ahli, ataupun
pemberian beasiswa tugas belajar ke luar negeri merupakan salah satu bentuk
kerja sama international di bidang pendidikan.
Ihwal globalisasi pada dasarnya
telah diamanatkan oleh PBB dalam Trilogi pendidikan global yaitu :
1.
Demokrasi pendidikan
2.
Modernisasi pendidikan dengan menghormati identitas
budaya, serta
3.
Adaptasi pendidikan dengan tuntunan pekerjaan
produktif searah dengan kebutuhan lapangan kerja.
A. Paradigma Pembelajaran
Abad Ke 21
1. Informasi
Pembelajaran
Lebih diarahkan untuk mendorong siswa/ peserta didik mencari tahu, dari
berbagai sumber, karena informasi sudah tersedia dimana saja dan kapan saja,
bukan siswa masih diberi tahu.
Dalam hal ini
Model Pembelajaran inquiry dam discovery
tepat digunakan dimana pembelajaran yang dimulai dengan Penyelidikan dengan melalui penyelidikan siswa akhirnya dapat memperoleh penemuan. Belajar
dengan melalui penemuan ini sesuai dengan bentuk-bentuk belajarn pemecahan
masalah dan dapat meningkatkan kreativitas siswa, yang memberikan kesempatan siswa/peserta didik
mencari tahu informasi mengenai materi pembelajaran dan dapat menyelasaikan
masalah yang telah diberikan guru.
2. Komputasi
Komputasi
merupakan sistem yang dapat mempercepat pekerjaan. Pembelajaran yang diarahkan
untuk mampu merumuskan masalah(menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah
(Menjawab).Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran yaitu CASE, Concret
preparation, Konflik kognitif,bridging dan Metakognitif.
3. Otomasi
Otomasi
merupakan sesuatu yang dapat menjangkau segala pekerjaan dengan rutin.dalam Otomasi ini Pembelajaran
yang diarahkan untuk melatih berfikir analitis (Pengambilan keputusan) bukan
berfikir mekanistik (Rutin). Dalam Pembelajaran seorang pendidik lebih baik
menggunakan kata tanya mengapa bukan apa, agar siswa dapat menjawab pertanyaan
tersebut.
4. Komunikasi
Dalam Komunikasi bisa dilakukan dimana saja,
kemana saja karena media yang digunakan pun juga sudah banyak . Nah dalam
Pembelajaran menekankan pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam
menyelesaikan masalah lebih cocok kolaboratif.
B. Abad 21 dan pengaruhnya dalam pembelajaran.
Saat ini
kita telah memasuki abad baru yaitu abad 21, dimana rentang waktunya antara
tahun 2001-2100. Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa abad 21 ini telah
banyak berubah akibat adanya pengaruh globalisai yang mencakup berbagai aspek
kehidupan termasuk didalamnya aspek pendidikan.
John Naisbitt seperti dikutip Deliar
Noerdan Iskandar Alisyahbana(1988:355), telah terjadi perubahan sepuluh arah
dalam menghadapi abad 21 yaitu :
1.
Peralihan dari masyarakat industry kepada masyarakat
informasi.
2.
Peralihan
dari teknologi yang dipaksakan kepada teknologi tinggi dan sentuhan tinggi.
3.
Peralihan dari ekonomi nasional menuju ekonomi dunia.
4.
Peralihan
dari perencanaan jangka pendek menuju perencanaan jangka panjang.
5.
Dari sentralisasi ke desentralisasi.
6.
Dari bantuan institusional menuju bantuan individual.
7.
Dari
demokrasi perwakilan menuju ke demokrasi partisipatoris .
8.
Peralihan dari hirarki-hirarki menuju pada penjaringan
(network)
9.
Peralihan dari utara menuju selatan.
10.
Peralihan
dari satu pilihan kepada pilihan majemuk.
Dalam konteks nasional, antisipasi
garapan pendidikan nasional menghadapi kehidupan mendatang khususnya abad 21 ,
secara yuridis formal telah tersurat pada UU No 2 1989 tentang wajib belajar
dasar 9 tahun dan GBHN 1993. Beikut beberapa gagasan yang dapat diterapkan
dalam menghadapi abad 21, seperti yang disarankan Deliar Noer dan Iskandar
Alisyahbana(1988:376-389):
1.
Pendidikan bukan hanya berurusan dengan
transmisi pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga dengan prefensi lain. Itu
berarti bahwa pendidikan berhubungan erat dengan nilai-nilai, dan sebagian
nilai itu adalah berkenaan dengan nasionalisme.
2.
Negara kita adalah Negara kepulauan. Secara potensial
sumber-sumber kita ada di darat dan di perairan.kita bertanggung jawab untuk
melindungi sumber alam tersebut serta memanfaatkannyasebaik-baiknya untuk
kemaslahatan bangsa.
3.
Dimasa depan mungkin sekali ada perubahan dan
fluktuasi yang berarti dalam penyebaran penduduk. Oleh karena itu, perlu
dikembangkan sistem pendidikan yang cukup lues yang mampu secara cepat
menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
4.
Dimasa depan perlu member peranan yang seluas-luasnya
kepada kaum wanita untuk mendapatkan kesempatan dalam pendidikan
5.
Tuntutan belajar seumur hidup (life long education)
tampaknya harus mendapatkan perhatian yang lebih memadai dimasa akan datang.
6.
Pentingnya media elektronik dalam penyebarluasan
pendidikan, termasuk pengembangan sistem belajar jarak jauh dan pemanfaatan computer
untuk pendidikan.
7.
Publikasi dan penelitian serta pengembangan pendidikan
merupakan hal yang sangat mendasar bagi setiap masyarakat yang ingin maju.
C.
Sistem Pembelajaran
Sains Abad 21
Dalam menghadapi globalisasi abad 21
maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan mutu
pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan Indonesia masih terus
diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan
penting dalam pengembangan IPTEK. IPA (natural sains) adalah kumpulan
pengetahuan dan cara-cara mendapatkan pengetahuan mempergunakan pengetahuan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk
mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu
kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran
paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di
dalam pengembangan kurikulum 2013. Menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013
semakin mempertegas peran pendidikan nasional. Sebagai salah satu sektor
pembangunan nasional dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai visi
terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa
untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia
yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang
selalu berubah. Oleh karena itu, pendidikan nasional harus berfungsi secara
optimal sebagai wahana utama dalam pembangunan bangsa dan karakter. Hal itu
juga dijadikan acuan dalam pembelajaran IPA.
Pembelajaran IPA yang didasarkan
pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal ilmu pengetahuan (have
a body of knowledge), standar proses akan membentuk siswa yang memiliki
keterampilan ilmiah (scientific skills), keterampilan berpikir (thinking
skills) dan strategi berpikir (strategy of thinking); standar
inkuiri ilmiah akan membentuk siswa yang mampu berpikir kritis dan kreatif (critical
and creative thinking); standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi
artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic
assessment). Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya
empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa,
untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar
guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila
siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Pengembangan kurikulum 2013 dapat
menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif
melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan
pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Diakui dalam perkembangan kehidupan
dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun
model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam
kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama,
mata pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi
dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus
didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh
para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai partisipasi penuh di
masyarakat.
Pengembangan kurikulum 2013
merupakan penyempurnaan dari KBK dan KTSP. Karakteristik kurikulum 2013
dijelaskan melalui table berikut.
|
No
|
KBK
|
KTSP
|
Kurikulum 2013
|
|
1.
|
Standar Kopetensi lulusan diturunkan dari standar
isi
|
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan
|
|
|
2.
|
Standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata
pelajaran (standar kompetensi lulusan mata pelajaran) yang dirinci menjadi
standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
|
Standar isi diturunkan dari standar kompetensi
lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
|
|
|
3.
|
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap,
pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan.
|
Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap
pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan
|
|
|
5
|
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran
|
Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang
diharapkan
|
|
|
6.
|
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti
sekumpulan mata pelajaran yang terpisah.
|
Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti
tiap kelas.
|
|
Sumber : Mendikbud 2013.
Pembelajaran IPA di era abad 21 sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah
(scientific inquiri) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered
learning) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thingking) dan
berpikir kritis (critical thingking), mampu memecahkan masalah, melatih
kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi.
Keterampilan berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan
berpikir tingkat tinggi (high order thingking skill) yang jika dijangkau dengan
ranah kognitif pada taksonomi bloom berada pada level analisis, sintesis,
evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan
domain IPA yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah
laku dan aplikasi sesuai dengan yang dikemukakan oleh yager (1996:3-4).
D.
Manajemen sistem
pendidikan abad 21
Menurut
Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4
prinsip, yaitu: (1) instruction should be student-centered;
(2)education should be collaborative; (3) learning should
have context; dan (4) schools should be integrated with society.
Keempat prinsip pokok
pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan
dan dikembangkan seperti berikut ini:
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai
subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang
dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi
pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan
keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya,
sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi
di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior
knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan
dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan
gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas
proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai
pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam
proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
Siswa harus
dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang
yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali
informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi
dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu
dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta
bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru)
seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di
berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang
praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka
bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
3. Learning should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru
membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang
sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan
dunia nyata.
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara
yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk
terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian
masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas
tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai
pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan,
pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak
pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan
kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini
bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di
sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat
yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi
warga digital yang bertanggung jawab
E. Bentuk Pembelajaran Digital Abad 21.
Dunia pendidikan
secara dinamis akan selalu mengalami perubahan yang berimbas pada tuntutan
perubahan pada pembelajaran dan sumber daya manusia yang terlibat didalamnya.
Pembelajaran abad 21 sendiri identik dengan kemajuan teknologinya, dimana
teknologi menjadi bagian yang integral dengan kehidupan pebelajar. Teknologi
informasi dan komunikasi menjadi prioritas dalam daftar kompetensi-kompetensi
yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pembelajaran abad 21 (21st Century
Literacy Summit,2010).
Meskipun
pembelajaran abad 21 membuat pendidikan nampak menuju arah yang sama, namun
keahlian abad 21 bersifat kompleks dan bervariasi antar negara ataupun antar
daerah, kecuali satu keahlian, literasi teknologi informasi dan komunikasi atau
juga disebut literasi dijital. Mendukung literasi tersebut, dikenal pula
softskills yang termasuk dalam dua kategori, cara berpikir dan cara bekerja.
Cara berpikir meliputi kreativitas, berfikir kritis, dan pemecahan masalah.
Cara bekerja meliputi kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Kedua kategori
softskills ini amat dipengaruhi oleh budaya lokal sehingga bersifat unik dan
ditentukan oleh masyarakat setempat.
Daftar Pustaka
akhmadsudrajat.wordpress.com/2013/10/01/prinsip-pembelajaran-abad-ke-21/
DARI
ARTIKEL YANG INI ADA 3 PERTANYAAN YANG SAYA AJUKAN. MOHON TEMAN-TEMAN DAN
PENGUNJUNG BLOG PEMBELAJARAN INI MEMBERI KOMENTAR YANG POSITIF DAN MENJAWAB
PERTANYAAN SAYA DEMI KEMAJUAN PENDIDIKAN DI INDONESIA.
SALAM EDUKASI
1.
Komputasi merupakan sistem yang dapat mempercepat
pekerjaan. Pembelajaran yang diarahkan untuk mampu merumuskan masalah(menanya),
bukan hanya menyelesaikan masalah (Menjawab).Pendekatan yang digunakan dalam
pembelajaran yaitu CASE, Concret preparation, Konflik kognitif,bridging dan
Metakognitif.
Mohon
penjelasannya tentang Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran yaitu CASE, Concret
preparation, Konflik kognitif,bridging dan Metakognitif?
2. Menurut Anda, sudah sejauh mana
perkembangan pendidikan di Indonesia menyongsong abad 21?
3.
Dalam Paradigma Pembelajaran Abad Ke 21 yaitu informasi, pembelajaran Lebih diarahkan untuk mendorong siswa/ peserta didik mencari
tahu, dari berbagai sumber, karena informasi sudah tersedia dimana saja dan
kapan saja, bukan siswa masih diberi tahu. Dalam hal ini Model
Pembelajaran inquiry dam discovery
tepat digunakan dimana pembelajaran yang dimulai dengan Penyelidikan dengan melalui
penyelidikan siswa akhirnya dapat memperoleh penemuan. Belajar dengan melalui
penemuan ini sesuai dengan bentuk-bentuk belajarn pemecahan masalah dan dapat
meningkatkan kreativitas siswa, yang
memberikan kesempatan siswa/peserta didik mencari tahu informasi
mengenai materi pembelajaran dan dapat menyelasaikan masalah yang telah
diberikan guru.Menurut Anda apakah ada model pembelajaran lain yang sesuai dengan
perkembangan abab 21. Jika ada mohon penjelasannya?
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusArtikel nya sangat menarik..
Dilihat dari pertanyaan nomor 2 yaitu sajuh mana perkembangan pendidikan di indonesia menyongsong abad 21 ?
Pada abad ke 21 kita dihadapi kehidupan yang lebih kompleks. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat menuntut dunia pendidikan untuk membuat suatu pembaharuan agar dapat mengikuti perkembangan zaman tersebut.
Apabila masih menggunakan sisem pendidikan yang sekarang ini bisa dipastikan negara kita akan tertinggal jauh dari negara lain.
Tuntutan akan pendidikan yang berkualitas adalah hal wajar pada zaman sekarang. Dalam hal ini tidak hanya para pelajar yang didongkrak kualitasnya,tetapi juga tenaga pengajar seperti guru. Pendidikan yang berkualitas akan diperoleh apabila antara pelajar dan guru sama-sama mempunyai kualitas. Tidak hanya pendidikan ilmu pengetahuan saja yang harus diajarkan oleh guru di sekolah,melainkan juga pendidikan kepribadian dan karakter. Karena pelajar tidak akan dikatakan sebagai pelajar yang berkualitas tanpa disertai dengan kepribadiannya yang baik.
Oleh karena itu,peningkatan kualitas pelajar dan guru sangat penting agar kita bisa ikut bersaing di abad 21. Sistem pendidikan juga harus diperbaharui agar mendukung program peningkatan kualitas tersebut.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pada pelajar,antara lain sebagai berikut:
1. Meningkatkan minat baca siswa
2. Meningkatkan prestasi siswa
3. Meningkatkan kualitas belajar
4. Cara Meningkatkan Kualitas Guru
5. Memperbaiki Sistem Pendidikan
Terima kasih
jika merujuk dari Balitbang Pusat Penelitian Kebijakan Dan Inovasi Pendidikan (PUSJAKNOV) tahun 2013 memberikan pandangan terhadap implementasi dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning), model Pembelajaran Berbasis Projek (Project Based Learning), dan model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery Inquiry Learning). artinya ada model lain yang dapat digunakan model inquiry dan discovery.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Menurut Anda apakah ada model pembelajaran lain yang sesuai dengan perkembangan abab 21. Jika ada mohon penjelasannya?
BalasHapusartikel yang menarik, sedikit sharing dari pertanyaan tersebut... sebenarnay beberapa model pembelajaran sesuai dengan keadaan abad 21,saya ingin membagigan slah satu model yangg mungkin bisa diterapkan, misal ...pendidik bisa menerapkan model pembelajaran active learning, dimana disini akan mejadi pembelajaran dengan student center, apalagi jiga ditambah dengan strategi pembelajaran active nya seperti talking stick, everyone is a tercher here dan strategi lain, lebih baik pula ditambah de3ngan me3di2 pembelajaran yang variatif, tks
salam edukasi
saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3, yg dimana apakah ada model pembelajaran yang lain yg cocok dgn abad 21 selain dari model discovery dan inquiry, menurut saya ada misalnya model Project based Learning, mengapa saya katakan seperti itu karna Model project based learning mencakup beberapa hal yaitu pada model ini menggunakan atau kegiatan sebagai media dan model ini Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Olehnya itu di dalam penerapannya model
BalasHapusproject based learning menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas dan hal itu sudah encakup dalam pembelajaran yg sesuai dengan abad 21
ulasan yang menarik.
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan sdri. Ema yaitu: Menurut Anda selain Model Pembelajaran inquiry dan discovery, apakah ada model pembelajaran lain yang sesuai dengan perkembangan abab 21. Jika ada mohon penjelasannya?
-menurut saya, selain Model Pembelajaran inquiry dan discovery, ada model lain yang cocok digunakan sesuai pembelajaran abad 21. contohnya saja: saat ini kita menggunakan kurikulum 2013, pada kurikulum 2013, ada beberapa model pembelajaran yang bisa digunakan, misalnya: PBL,CTL, atau salah satu model kolaboratif.
Terima kasih.
Terimah kasih ulasanya bu.m saya coba .mendiskusikan jawban no 2. Mnurut saya. Indonesi suda sdkit lebih maju untk menyongsong pembelajran abad 21. Yg mna bbrapa skolah suda mnrpkan pmbelajran berbasis teknolgi. Krna kita prlu brtahap dan memahami bnr bagaimana prinsip pmblajarn abad 21 dan mnyesuaikan dgn budaya dgn indonesia sendiri..
BalasHapusAssalamualaikum..
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, yg dimana Indonesia tdk sepenuhnya tiap sekolah sudah menerapka n pembelajaran di abad 21, tetapi setiap sekolah tersebut sudah berusaha, salah satu contohnya, saya dapat berita dari teman saya , dia mengajar di plosok, tetapi mreka antusias untuk mengetahui bagaimana perkembangannya dengan cara ikut seminar pelatihan k13.
itu sudah menjadi salah satu alternatif untuk menyesuaikan pembelajaran di abad 21. terima kasih
Assalamualaikum
BalasHapussaya akan coba menjawab pertanyaan no 2. Menurut saya perkembangan pembelajaran abad 21 di indonesia cukup baik. Dimana perkembangan teknologi berjalan demikian pesat. Tentu perkembangan teknologi ini menyebabkan pendidikan membutuhkan input yang lebih besar supaya bisa menyesuaikan dengan asupan teknologinya.. Hanya saja terjadi beberapa kesenjangan antara sekolah di perkotaan dan perdesaan. Sekolah di desa kurang mendapat perhatian sehingga mereka sulit untuk mengakses teknologi. sehingga mereka banyak tertinggal dari teman-temannya di kota.
Baik saya akan menyikapi pertanyaan no 2.? Sajauh ini pendidikan sudah jauh lebih modern krn semua nya serba canggih dan serba cepat menggunakan internet sehingga memudahkan kan kita mencari informasi dan sumber belajar tetapi dari kemudah itu tentunya ada dampak negatif nya terhadap pembelajaran karena sejauh ini terjadinya kenakalan remaja akibat pengaruh abad dari 21 itu tadi.
BalasHapus