SISTEM PENILAIAN PROSES
PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA
Proses pembelajaran sains pada
hakekatnya menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar
penguasaan dari kognitif, afektif, serta psi-komotorik terbentuk pada diri
siswa, maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes
obyektif atau subyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa
dalam melakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan
hasil karya belum dapat diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selama
mengerjakan tugas dari guru. Baik berupa tugas untuk melakukan percobaan,
peragaan maupun pengamatan.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa
bentuk atau sistem penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa
sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan
dilaksanakan guru. Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan
tujuan dan proses pembelajaran. Adapun tujuan dalam pembelajaran sains dapat
dirangkum ke dalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep
sains, pengembangan keterampilan proses atau kinerja siswa, dan penanaman sikap
ilmiah.
Agar hasil belajar dapat diungkap
secara menyeluruh, maka selain digunakan alat ukur tes obyektif dan subyektif
perlu dilengkapi dengan alat ukur yang dapat mengetahui kemampuan siswa dari
aspek kerja ilmiah (keterampilan dan sikap ilmiah) dan seberapa baik siswa
dapat menerapkan informasi pengetahuan yang diperolehnya. Alat penilaian yang
diasumsikan dapat memenuhi hal tersebut antara lain adalah tes unjuk kerja (performance
test), penugasan (proyek/project), dan hasil kerja (Produk/Product)
serta jenis penilaian alternatif lainnya seperti penilaian tertulis (paper
& pen), portofolio (portfolio), sikap, diri (self assessment).
(Depdiknas-Rancangan Penilaian Hasil Belajar, 2006).
Dengan menerapkan penilaian seperti
di atas, diharapkan dapat dikumpulkan bukti-bukti kemajuan siswa secara aktual
yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses
pembelajaran selanjutnya. Selain itu penilaian dengan cara ini dirasakan lebih
adil dan fair bagi siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat
secara aktif dalam proses pembelajaran sains.
Penilaian Hasil Belajar Sains
Penilaian (assessment) adalah
penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh
informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi
(rangkaian kemampuan) siswa. Dalam rancangan penilaian hasil belajar Depdiknas,
penilaian didefinisikan sebagai proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka,
deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan.
Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar
seorang siswa.
Kegiatan penilaian hasil belajar
sains dilakukan untuk menafsirkan hasil pengukuran dan menentukan pencapaian
hasil belajar sains berdasarkan kriteria tertentu. Umumnya digunakan
kategorisasi seperti baik-buruk, benar-salah, sangat setuju-sangat tidak
setuju, dan sebagainya.
Pendekatan dalam penilaian
pembelajaran biasanya terdiri atas: Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced-PAN)
dan Penilaian Acuan Patokan (Criterion-Referenced-PAP). PAN adalah penilaian
yang membandingkan hasil pengukuran yang diperoleh orang lain dalam
kelompoknya. Sedangkan PAP adalah penilaian berdasarkan patokan atau kriteria
tertentu yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Adapun rangkuman ciri-ciri
perbandingan kedua-duanya adalah sebagai berikut:
|
PAP
|
PAN
|
|
|
KEGUNAAN
|
Ketuntasan
belajar
|
Pengujian
hasil belajar
|
|
PENEKANAN
UTAMA
|
Menjelaskan
kemampuan menyelesaikan tugas
|
Mengukur
perbedaan individu
|
|
INTERPRETASI
HASIL
|
Membandingkan
kemampuan dengan kriteria penilaian
|
Membandingkan
antara prestasi peserta didik
|
|
KELUASAN
ISI
|
Terfokus
pada tugas terbatas
|
Mencakup
isi yang luas
|
|
PERENCANAAN
TES
|
Rincian
kemampuan yang diukur
|
Kisi-kisi
tes sangat dibutuhkan
|
|
PROSEDUR
PEMILIHAN BUTIR
|
Mengikutkan
semua butir yang diperlukan , tidak ada pergantian tingkat kesulitan butir
atau membuang butir yang mudah
|
Seleksi
butir dengan daya beda tinggi, memperoleh variasi skor yang besar
(heterogen), butir mudah dihilangkan
|
|
STANDAR
HASIL
|
Penggunaan
standar mutlak (menguasai 75% istilah teknis)
|
Penggunaan
standar norma (rangking 5-40 siswa)
|
Tujuan penilaian
Sudjana
(2005) menyebutkan bahwa tujuan dari penilaian adalah:
1. Mendeskripsikan
kecakapan belajar pada siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dalam berbagai bidang studi atau
mata pelajaran yang ditempuhnya.
2. Mengetahui
keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh
keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan
yang diharapkan.
3. Menentukan
tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan
dalam hal progam pendidikan dan pengajaran serta stra-tegi pelaksanaannya.
4. Memberikan
pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah ke-pada pihak-pihak
yang berkepentingan.
Fungsi Penilaian
a. Alat untuk mengetahui
tercapai-tidaknya tujuan pembelajaran. Dengan fungsi ini maka penilaian harus
mengacu pada rumusan-rumusan tujuan pembelajaran sebagai penjabaran dari
kompetensi mata pelajaran.
b. Umpan balik bagi perbaikan proses
belajar-mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan pembelajaran,
kegiatan atau pengalaman belajar siswa, strategi pembelajaran yang digunakan
guru, media pembelajaran, dll.
c. Dasar dalam menyusun laporan
kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut
dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi
atau mata pelajaran dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya.
Penilaian proses sains
Penilaian
proses merupakan
penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada tingkat efektivitas
kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian
proses pembelajaran adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan
pengajaran. Penilaian proses merupakan upaya mengumpulkan informasi tentang
kemajuan belajar siswa. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian
terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan
keterlaksanaan proses belajar mengajar.
Sasaran yang dinilai dalam penilaian
proses adalah tingkat efektivitas KBM dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran. Jenis penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemajuan belajar
siswa untuk keperluan perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta
untuk memperoleh umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan
belajar-mengajar.
Penilaian proses dan hasil belajar
dilakukan untuk memantau kemajuan siswa dan menilai penguasaan kompetensi yang
diharapkan. Hasil penilaian ini mencerminkan tingkat efektivitas
pembelajaran. Penilaian proses
dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti tanya jawab, observasi
partisipasi siswa dalam diskusi, atau observasi kinerja dalam berlatih
menguasai keterampilan tertentu, yang disertai dengan balikan. Oleh karena
fungsinya untuk memantau dan memperbaiki, maka penilaian proses harus dilakukan
secara berkesinambungan.
Penilaian proses pembelajaran menggunakan
pendekatan penilaian otentik
(authentic
assesment) yang menilai kesiapan siswa, proses, dan hasil belajar secara utuh.
Penilaian proses dan hasil belajar siswa tercermin dalam nilai ujian tengah
semester, nilai ujian akhir semester, dan nilai akhir siswa dalam mata
pelajaran tersebut. Nilai–nilai ini digunakan oleh guru dan tim sekolah sebagai
salah satu tolok ukur efektivitas pembelajaran, yang kemudian ditindaklanjuti
dengan perbaikan jika diperlukan.
Untuk mengetahui kegiatan kemajuan
belajar, serta hasil belajar dapat digunakan 3 jenis penilaian, yaitu : ulangan
harian (formatif), tugas dan pekerjaan rumah, serta ulangan umum (sumatif).
1) Ulangan harian dapat dilakukan dalam
bentuk tulis, lisan/mencongak, perbuatan, dan pengamatan pada setiap akhir
pokok bahasan. Ulangan harian dilaksanakan minimal 4 kali dalam satu semester.
2) Tugas dan pekerjaan rumah
dilaksanakan untuk setiap mata pelajaran di setiap tingkatan/kelas. Pemberian
tugas dan pekerjaan rumah dilakukan secara teus menerus dengan menggunakan
teknik yang bervariasi, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran (pokok
bahasan). Pelaksanaan pemberian tugas dan pekerjaan rumah hendaknya
memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut.
a) Jumlah tugas dan
pekerjaan rumah hendaknya tidak memberatkan siswa.
b) Tujuan pokok pemberian
tugas dan pekerjaan rumah adalah agar siswa dapat menerapkan atau menggunakan apa yang telah
dipelajarinya.
c) Waktu pemberian tugas
dan pekerjaan rumah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi dalam waktu
yang sama.
3) Ulangan umum (sumatif) dilakukan
dalam bentuk tulis, lisan, atau perbuatan pada akhir semester. Alat penilaian
yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik setiap mata pelajaran, tingkat
kelas, dan kondisi yang ada. Bentuk soal uraian lebih diutamakan, dengan maksud
untuk merangsang daya pikir siswa dan melatih siswa dalam mengemukakan
pendapat, tanggapan, dan pemikirannya
Jenis penilaian yang pertama dari kedua
(ulangan dan tugas/pekerjaan rumah) dapat dikategorikan sebagai penilaian
proses, sedangkan jenis penilaian yang ketiga (ulangan umum) termasuk penilaian
hasil belajar. Penilaian proses dapat dilakukan dengan menggunakan dua
jenis alat penilaian, yakni menggunakan alat yang berupa tes dan nontes. Jenis
tes yang dapat digunakan berupa tes tulis, tes lisan, dan tes
perbuatan/tindakan. Para ahli menyarankan, sebaiknya tes yang digunakan dalam
penilaian proses berupa tes uraian, bukan tes objektif, dengan pertimbangan tes
uraian dapat mendorong siswa untuk berpikir analitis, kritis, dan kreatif.
Penilaian proses dan hasil belajar siswa
tercermin dalam nilai ujian tengah semester, nilai ujian akhir semester, dan
nilai akhir siswa dalam mata pelajaran tersebut. Nilai–nilai ini digunakan oleh
guru dan tim sekolah sebagai salah satu tolok ukur efektivitas
pembelajaran, yang kemudian ditindaklanjuti dengan perbaikan jika diperlukan.
Pusat perhatian penilaian proses belajar
adalah tingkat efektivitas proses kegiatan belajar dalam mencapai tujuan
pengajaran sedangkan pusat perhatian penilaian hasil belajar adalah tingkat
penguasaan peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Keduanya bersifat
saling mengisi, masalah proses dan hasil sama pentingnya. Hasil yang baik dapat
dicapai jika proses belajar mengajarnya baik dan proses yang baik akan dapat
melahirkan hasil yang baik pula.
Tujuan penilaian proses belajar mengajar
pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama
efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran.
Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan komponen-komponen
proses belajar mengajar seperti:
1. Tujuan
pengajaran atau instruksional
2. Bahan
pengajaran
3. Kondisi siswa
dan kegiatan belajarnya.
4. Kondisi guru
dan kegiatan belajarnya.
5. Alat dan
sumber belajar yang digunakan.
6. Tehnik dan
cara pelaksanaan penilaianya
Kriteria
Penilaian Proses
Penilaian proses belajar mengajar
memiliki beberapa kriteria, dimana Kriteria
ini penting sebagai tolok ukur keberhasilan proses belajar-mengajar.
1. Konsistensi kegiatan
belajar mengajar dengan kurikulum.
Kurikulum adalah program
belajar mengajar yang telah ditentukan sebagai acuan apa yang seharusnya
dilaksanakan. Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat sejauh mana acuan
tersebut dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-aspek:
a.Tujuan-tujuan
pengajaran
b.Bahan pengajaran
yang diberikan
c.Jenis kegiatan yang
dilaksanakan
d.Cara melaksanakan
setiap jenis kegiatan
e. Peralatan yang
digunakan untuk masing-masing kegiatan
f. Penilaian yang
digunakan untuk setiap tujuan.
2. Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana
kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan
kesulitan yang berarti. Dengan apa yang direncanakan dapat diwujudkan
sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat dilihat dalam hal :
a. Mengkodisikan kegiatan
belajar siswa.
b. Menyiapkan alat,
sumber dan perlengkapan belajar.
c. Waktu yang disediakan
untuk waktu belajar mengajar.
d. Memberikan bantuan dan
bimbingan belajar kepada siswa.
e. Melaksanakan
proses dan hasil belajar siswa.
f. Menggeneralisasikan
hasil belajar saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan belajar
mengajar berikutnya.
3. Keterlaksanaannya oleh siswa
Dilihat sejauh mana siswa melakukan
kegiatan pembelajaran dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami
hambatan dan kesulitan yang berarti, hal ini mencakup:
a.
Memahami
dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru.
b. Semua siswa turut
melakukan kegiatan belajar.
c. Tugas-tugas belajar
dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
d. Manfaat semua sumber
belajar yang disediakan guru.
e. Menguasai
tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.
4. Motivasi belajar siswa
Keberhasilan proses belajar-mengajar
dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditujukan para siswa pada saat
melaksanakan kegiatan belajar mengajar . dalam hal :
a.
Minat
dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b. Semangat siswa untuk
melakukan tugas-tugas belajarnya.
c. Tanggung jawab siswa
dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
d. Reaksi yang ditunjukan
siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
e. Rasa senang dan puas
dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
5. Keaktifan
para siswa dalam kegiatan belajar
Penilaian proses belajar mengajar
terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar , keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal :
a.
Turut
serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
b. Terlibat dalam pemecahan
masalah.
c.
Bertanya
kepada teman atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi.
d. Berusaha tahu mencari
informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
e. Melaksanakan diskusi
kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
f.
Menilai
kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
g. Melatih diri dalam
memecahkan masalah atau soal yang sejenis.
h. Kesempatan mengunakan
atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau
persoalan yang dihadapinya.
6. Interaksi
guru dan siswa
Interaksi guru dan siswa berkenaan
dengan hubungan timbal balik dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini
dapat dilihat:
a.
Tanya
jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa.
b. Bantuan guru terhadap
siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara individual mupun secara
kelompok.
c. Dapatnya guru dan
siswa tertentu dijadikan sumber belajar.
d. Senantiasa beradanya
guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator belajar.
e. Tampilnya guru sebagai
pemberi jalan eluar manakala siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas
belajarnya.
f. Adanya kesempatan
mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil belajar yang diperoleh
siswa.
7. Kemampuan atau keterampilan guru
mengajar
Keterampilan guru mengajar merupakan puncak
keahlian guru yang professional dalam hal bahan pengajaran, komunikasi dengan
siswa, metode mengajar, dll. Beberapa indikator dalam menilai kemampuan ini
antara lain :
a.
Menguasai
bahan pelajaran yang diajarkan kepada siswa.
b. Terampil berkomunikasi
dengan siswa.
c.
Menguasai
kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan kelas.
d. Terampil mengunakan
berbagai alat dan sumber belajar.
e. Terampil mengajukan
pertanyaan, baik lisan maupun tulisan.
8. Kualitas hasil belajar
yang diperoleh siswa
Salah
satu keberhasilan proses belajar-mengajar dilihat dari hasil belajar yang
dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain:
a.
Perubahan
pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan pengalaman
belajarnya.
b. Kualitas dan kuantitas
penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa.
c. Jumlah siswa yang
dapat mencapai tujuan instruksional minimal 75 dari jumlah intrusional yang
harus dicapai.
d. Hasil belajar tahan
lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam mempelajari bahan
berikutnya.
Aspek Penilaian
Tujuan IPA (Sains)
adalah menguasai pengetahuan IPA (Sains), memahami dan menerapkan konsep IPA,
menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini
sejalan dengan tiga aspek dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di
bawah:
1. Penilaian Pengetahuan, pemahaman dan
penerapan konsep IPA
2. Penilaian Keterampilan dan Proses
3. Penilaian karakter dan sikap (sikap
ilmiah)
Penjelasan ketiga jenis penilaian
tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Penilaian
Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA
Penilaian pengetahuan
IPA merupakan produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk
melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta, konsep, prinsip, dan
hukum-hukum dalam IPA dan penerapannya dalam kehidupan. Peserta didik
diharapkan dapat menggunakan pemahamannya tersebut untuk membuat keputusan,
berpartisipasi di masyarakat, dan menanggapi isu-isu lokal dan global.
2. Penilaian
Keterampilan Proses
Penilaian dilakukan
tidak hanya terhadap produk, tetapi juga proses. Penilaian proses IPA dilakukan
terhadap keterampilan proses IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan
keterampilan terpadu tingkat awal. Keterampilan proses IPA dasar meliputi
observasi, inferensi, melakukan pengukuran, menggunakan bilangan, klasifikasi,
komunikasi, dan prediksi. Di samping itu, peserta didik mulai diperkenalkan
dengan kemampuan melakukan percobaan sederhana dengan dua variabel atau lebih
untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel. Peserta didik juga
dilatih mengkomunikasikan hasil belajarnya melalui berbagai bentuk sepeti
debat, diskusi, presentasi, tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari
berbagai keterampilan proses ilmiah, berikut adalah enam keterampilan dasar
yang perlu dikuasai untuk peserta didik.
a. Observasi
Penilaian keterampilan
melakukan observasi dinilai pada saat melakukan observasi dalam rangka
memperoleh data hasil penginderaan terhadap objek dan fenomena alam menggunakan
panca indera. Informasi yang diperoleh menimbulkan rasa ingin tahu, pertanyaan,
interpretasi, dan investigasi.
b. Komunikasi
Keterampilan
berkomunikasi secara ilmiah menggunakan berbagai cara, seperti menggunakan
grafik, carta, peta, simbol, diangram, rumus matematis, dan demonstrasi visual,
baik secara tertulis maupun lisan.
c. Klasifikasi
Keterampilan melakukan
klasifikasi diperlukan untuk mengelompokkan berbagai objek untuk mempermudah
mempelajarinya, berdasarkan persamaan, perbedaan, dan saling keterkaitan obyek.
d. Pengukuran
Keterampilan melakukan
pengukuran menggunakan alat ukur standar untukmelakukan observasi secara
kuantitatif, membandingkan, dan mengklasifikasikan, serta mengkomunikasikannya
secara efektif. Alat pengukuran meliputi penggaris, meteran, neraca, gelas
ukur, termometer, pH meter, Higrometer, dan sebagainya.
e. Inferensi
Keterampilan melakukan
interpretasi dan menjelaskan kejadian di sekitar kita. Kemampuan ini dibutuhkan
antara lain untuk menyusun hipotesis. Interpretasi menghubungkan pengalaman
lampau dengan apa yang sedang dilihat.
f. Prediksi
Keterampilan melakukan
prediksi ditentukan oleh observasi yang teliti dan inferensi untuk memprediksi
apa yang akan terjadi untuk menentukan reaksi yang tepat terhadap lingkungan.
g. Percobaan Sederhana
Keterampilan melakukan
percobaan diawali dengan kemampuan menyusunpertanyaan, mengidentifikasi
variabel, mengemukakan hipotesis, mengidentifikasi variabel kontrol, membuat
desain percobaan, melakukan percobaan, mengumpulkan data, dan interpretasi
data.
3.
Penilaian sikap
Penilaian sikap ilmiah meliputi sikap
obyektif, terbuka, tidak menerima begitusaja sesuatu sebagai kebenaran, ingin
tahu, ulet, tekun, dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan bekerjasama,
bertukar pendapat, mempertahankan pendapat, menerima saran, dan kemampuan
sosial lainnya dapat juga dilakukan melalui pembelajaran IPA.
Standar Penilaian
Pendidikan Ipa
Penilaian pembelajaran IPA di sekolah
hendaknya mengacu pada suatu standar yang ditetapkan baik secara nasional
maupun internasional. National Research Council dalam National
Committee on Science Education Standards and Assessment (1996), telah
menetapkan National Science Education Standards (NSES), suatu
standar bagi pendidik dalam menilai pendidikan IPA di semua level
pendidikan. Standar nasional pendidikan IPA versi NRC ini berisi
standar konten IPA, standar pedagogi dalam mengajar
IPA, standar profesi, standar program,
standar asessment, dan standar sistem. Mutu pendidikan
IPA yang baik, harus memenuhi semua standar tersebut.
Penilaian standar memberikan
kriteria untuk menilai kemajuan menuju visi pendidikan IPA pada literasi sains
untuk semua. Standar
yang menggambarkan kualitas praktek penilaian yang digunakan
oleh guru dan lembaga pemerintah untuk mengukur prestasi dan memberikan kesempatan kepada siswa
untuk belajar IPA.Panduan
untuk mengembangkan penilaian, praktek, dan kebijakan. Standar ini dapat
diterapkan untuk penilaian siswa, guru, program formatif dan
sumatif, dan penilaian eksternal. Sebagai mekanisme umpan
balik utama dalam sistem pendidikan sains.
Latar belakang disusunnya Standar pendidikan
IPA ini adalah karena adanya kebutuhan masyarakat terhadap IPA bukan hanya
sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk bertahan hidup
(NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan kriteria untuk menentukan
kualitas praktik-pratik penilaian. Standar penilaian meliputi lima
bidang sebagai berikut:
1. Konsistensi penilaian dengan
suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
2. Penilaian prestasi dan kesempatan untuk
belajar sains
3. Mencocokkan antara kualitas teknis dari
kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang perlu dilakukan berbasis data
tersebut
4. Kejujuran dalam praktik penilaian
5. Ketepatan penarikan kesimpulan berdasarkan
penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan
untuk belajar.
Dalam visi yang dijelaskan oleh National
Science Education Standards, penilaian adalah mekanisme umpan balik utama
dalam sistem pendidikan sains. Standar penilaian menyediakan siswa dengan
umpan balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan
balik tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan umpan balik
tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan
balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya
merangsang perubahan kebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan
mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan
pada artikel diatas, penulis ingin mendiskusikan beberapa pertanyaan dengan para
pembaca, yaitu :1. Bagaimana pelaksanaan
penilaian proses pembelajaran sains pada kurikulum 2013 di Indonesia? Apakah
sudah berjalan sesuai dengan standar nasional?
2. Dalam melaksanakan
penilaian hasil belajar (mengoreksi hasil belajar siswa) dalam satu kelas jika
tidak selesai maka akan dilanjutkan hari berikutnya. Menurut Anda adakah
pengaruhnya terhadap nilai siswa tersebut ?
3. Menurut Anda, samakah
penilaian proses pembelajaran sains dengan penilaian proses pembelajaran selain
IPA?
-TERIMA KASIH-
BalasHapusAssalamualaikum wr.wb
Saya mencoba menanggapi pertanyaan yg terakhir.
Penilaian itu mengukur seberapa jauh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dicapai oleh siswa. Selain melengkapi proses belajar mengajar, penilaian juga memberi umpan balik formatif dan sumatif pada guru, siswa, sekolah dan orang tua.
Menurut saya sama saja.tergantung materi apa yang di pelajari, jadi harus dicocokkan dengan jenis penilaian.Pada dasarnya penilaian harus sesuai dengan proses belajar mengajar.
Terima kasih
Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 2. Mnrt saya tidak msalah jika hanya mengoreksinya d lain wktu itu tidak mempengaruhi nilai siswa. Yg brpngruh jika tidak d lakukan pngoreksian. Mka guru tidak bisa mlakukan penilaian pda aspek pngetahuan. Wlaupun pengtahuan tidak hanya dilakukan dgn mengoreksi saja. Sekian..
BalasHapusMencoba menyikapi pertanyaan pertama menurut saya penilaian proses pemb sains pada k13 sudah cukup berkembang, maksudnya disini sudah cukup sering digunakan dibandingkan sebelum2 nya karena menjadi acuan juga untuk penilaian sikap dan keterampilan. Terimakasih
BalasHapusartikel yang menarik.
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan sdri.Ema mengenai Bagaimana pelaksanaan penilaian proses pembelajaran sains pada kurikulum 2013 di Indonesia? Apakah sudah berjalan sesuai dengan standar nasional?
-menurut saya,penilaian pada kurikulum 2013 sudah mendetail dimana setiap aspeknya sudah memiliki beberapa rincian yang telah diseuaikan dengan KI dan KD. penilaian yang digunakan pada kurikulum 2013 telah tertuang pada Permendiknas no.3 tahun 2017. jadi penilaian yang ada sekarang menurut saya sudah mengikuti standar nasional, hanya mungkin saja masih ada beberapa sekolah yang dalam praktinya belum menjalankan sepenuhnya penilaian yang sesuai dengan standar nasional.
terima kasih.
Menurut Anda, samakah penilaian proses pembelajaran sains dengan penilaian proses pembelajaran selain IPA?
BalasHapusmenurut saya sama saja proses penilaiannya semua penilaian itu bergantung pada materi apa yang di ajarkan cuma mungkin caranya pemberian nilainya saja berbeda, minsalnya nilai mata pelajaran olahraga dengan biologi, mungkin kalau olahraga cendrung ke nilai praktek yang lebih banyak sedangkan biologi gabungan dari nilai keaktifan dalam kelas dengan praktikum.
Menurut Anda, samakah penilaian proses pembelajaran sains dengan penilaian proses pembelajaran selain IPA? menanggapi ini, penilaian proses di IPA maupun selain IPA menurut saya sama, yang berbeda adalah aspek yang dinilai, jadi pada prosesnya sama, dimana guru mengadakan observasi terhadap proses pembelajaran yang ia laksanakan demi tujuan hasil akhir belajar yang baik.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan no.2 Dalam melaksanakan penilaian hasil belajar (mengoreksi hasil belajar siswa) dalam satu kelas jika tidak selesai maka akan dilanjutkan hari berikutnya. Menurut Anda adakah pengaruhnya terhadap nilai siswa tersebut ?
BalasHapusMenurut saya apabila penilaian hasil belajar dalam bentuk essay apabila diselesaikan esok hari maka akan terdapat perbedaan penilaian tergantung dari kondisi guru tersebut akan tetapi apabila guru tersebut dapt konsisten memberikan nilai tidak menjadi masalah.
tentunya berbeda penilaian proses sain dan penilaian proses selain IPA karna setiap penilaian memiliki karakteristik yang berbeda, lebih mengutamakan apa dalam suatu proses pembelajaran. setiap mata pelajaran akan mengutamakan hal tertentu dalam pembelajaran.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Menurut saya sama saja penilaian proses sains dan non sains. Memberikan penilaian proses pada siswa berarti memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan sesuatu bukan hanya membicaraka sesuatu tentang sains. Jadi bisa saja penilaian proses sains ini digunakan untuk penilaian pada mata pelajaran lain selain IPA 😊
BalasHapusmenngapi pertanyaan nomor 3 penilaian proses pembelajaran sains dengan penilaian proses pembelajaran selain IPA itu pada intinya sama saja. tapi mungkin dalam pembelajaran ipa lebih ditekan kan lagi penilaian prosesnya sebab pda pembelajaran ipa siswa memang dituntut untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan memecahkan masalah yang diberikan guru contohnya pada saat praktikum ataupun observasi sehingga baik tidaknya pemahaman siswa pada pelajaran ipa ditentukan oleh proses yang dialami siswa
BalasHapus