Selasa, 27 Februari 2018


EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS

A. Pengertian
Pembelajaran Quantum merupakan istilah terjemahan dari bahasa asing yaitu quantum learning. Menurut Deporter, dkk (2010), quantum learning adalah penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain.
Pembelajaran quantum merupakan model pembelajaran yang menyenangkan serta menyertakan segala dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan, interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum untuk belajar. Menurut Deporter, ddk (2010), pembelajaran quantum hampir sama dengan sebuah simfoni yang di dalamnya banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman yang mewarnai hasil akhir yang indah.
Model Pembelajaran Quantum adalah model yang digunakan dalam rancangan, penyajian dalam belajar yang dirangkai menjadi sebuah paket yang multi sensoris, multi kecerdasan, dan kompatibel dengan otak, mencakup petunjuk yang spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa  tubuh, dan kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran semuanya mengirim pesan tentang belajar, semua yang terjadi dalam perubahan kita mempunyai tujuan, otak berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan digerakkan rasa ingin tahu, sehingga proses belajar paling baik terjadi jika siswa telah mengalami informasi sebelum memperoleh nama untuk apa mereka pelajari, siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka, perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi dengan belajar (DePorter, 2000:38).
B.   Tujuan model quantum
Ø  untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
Ø   menciptakan proses belajar yang menyenangkan.
Ø   menyesuaikan kemampuan otak dengan apa yang dibutuhkan oleh otak.
Ø   untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karir dan untuk membantu mempercepat dalam pembelajaran
C.  Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan)
           
            Tumbuhkan
Tahap menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Melalui tahap ini, guru berusaha mengikutsertakan siswa dalam proses belajar. Motivasi yang kuat membuat siswa tertarik untuk mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Tahap tumbuh bisa dilakukan untuk menggali permasalahan terkait dengan materi yang akan dipelajari, menampilkan suatu gambaran atau benda nyata, cerita pendek atau video.
Alami
Alami merupakan tahap ketika guru menciptakan atau mendatangkan pengalaman yang dapat dimengerti semua siswa. Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan awal yang telah dimiliki. Selain itu, tahap ini juga untuk mengembangkan keinginantahuan siswa. Tahap alami bisa dilakukan dengan mengadakan pengamatan.
Namai
Tahap namai merupakan tahap memberikan kata kunci, konsep, model, rumus, atau strategi atasp pengalaman yang telah diperoleh siswa. Dalam tahap ini siswa dengan bantuan guru berusaha menemukan konsep atas pengalaman yang telah dilewati. Tahap penamaan memacu struktur kognitif siswa untuk memberikan identitas, menguatkan, dan mendefinisikan atas apa yang telah dialaminya. Proses penamaan dibangun atas pengetahuan awal dan keingintahuan siswa saat itu. Penamaan merupakan saat untuk mengajarkan konsep kepada siswa. Pemberian nama setelah pengalaman akan menjadi sesuatu lebih bermakna dan berkesan bagi siswa. Untuk membantu penamaan dapat digunakan susunan gambar, warna alat bantu, kertas tulis, dan poster dinding.
Demonstrasikan
Tahap demontrasi memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupan mereka. Tahap ini menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menunjukan apa yang mereka ketahui. Tahap demonstrasi bisa dilakukan dengan penyajian di depan kelas, permainan, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan hasil pekerjaan.
Ulangi
Pengulangan akan memperkuat koneksi saraf sehingga menguatkan struktur kognitif siswa. Semakin sering dilakukan pengulangan, pengetahuan akan semakin mendalam. Bisa dilakukan dengan menegaskan kembali pokok materi pelajaran, member kesempatan siswa untuk mengulang pelajaran dengan teman lain atau melalui latihan soal.
Rayakan
Rayakan merupakan wujud pengakuan untuk menyelesaikan partisipasi dan memperoleh keterampilan dalam ilmu pengetahuan. Bisa dilakukan dengan pujian, tepuk tangan, dan bernyanyi bersama.

D.   Prinsip-prinsip pembelajaran kuantum

1.       Segalanya berbicara artinya segala dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, rancangan pelajaran semua mengirimkan pesan tentang belajar;
2.     Segalanya bertujuan artinya semua yang terjadi dalam pengubahan mempunyai tujuan;
3.     Pengalaman sebelum pemberian nama artinya proses belajar yang paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka mempelajarinya;
4.     Mengakui setiap usaha artinya pada saat siswa belajar, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka;
5.    Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan artinya perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan sikap positif siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

E.     Azas Utama Model Pembelajaran Quantum

Menurut Deporter (2010), azas utama pembelajaran quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Maksud dari konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” adalah bahwa pentingnya memasuki dunia peserta didik sebagai langkah pertama yang harus dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran.
Memasuki dunia peserta didik dapat dilakukan dengan membangun jembatan autentik memasuki kehidupan siswa, untuk mendapatkan hak mengajar dari mereka.Caranya yaitu dengan mengaitkan apa yang diajarkan guru dengan peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademik siswa. Setelah kaitan terbentuk, guru dapat menerapkan konsep “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Dalam konteks inilah materi pembelajaran dipaparkan, misalnya: kosa kata baru, model mental, rumus, dan lain-lain.

F.   Karakteristik Model Pembelajaran Quantum

Budiman (2013) menuliskan beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok Quantum Learning sebagai berikut:
1.      Berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. Oleh karena itu, pandangan tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar diturunkan, ditransformasikan, dan dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif, bukan teori fisika kuantum. Dapat dikatakan disini bahwa Quantum Learning tidak berkaitan erat dengan fisika kuantum, kecuali analogi beberapa konsep kuantum. Hal ini membuatnya lebih bersifat kognitif daripada fisis.
2.      Lebih bersifat humanistis, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatiannya. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi, dan sebagainya dari pembelajar diyakini dapat berkembang secara maksimal atau optimal. Hadiah dan hukuman dipandang tidak ada karena semua usaha yang dilakukan manusia patut dihargai, kesalahan dipandang sebagai gejala manusiawi. Ini semua menunjukkan bahwa keseluruhan yang ada pada manusia dilihat dalam perspektif humanistis.
3.      Lebih bersifat konstruktivistis, nuansa konstruktivisme dalam Quantum Learningrelatif kuat. Malah dapat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning merupakan salah satu cerminan filsafat konstruktivisme kognitif, bukan konstruktivisme sosial. Meskipun demikian, berbeda dengan konstruktivisme kognitif lainnya yang kurang begitu mengedepankan atau mengutamakan lingkungan, Quantum Learning justru menekankan pentingnya peranan lingkungan dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal dan memudahkan keberhasilan tujuan pembelajaran.
4.      Berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Atau lebih tepat dikatakan di sini bahwa Quantum Learning tidak memisahkan dan tidak membedakan antara apa yang di dalam dan apa yang di luar. Dalam pandangan Quantum Learning, lingkungan fisikal, mental dan kemampuan pikiran atau diri manusia sama-sama pentingnya dan saling mendukung. Karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulan yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
5.      Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna. Dapat dikatakan bahwa interaksi telah menjadi kata kunci dan konsep sentral dalam Quantum Learning. Karena itu, Quantum Learning memberikan tekanan pada pentingnya interaksi, frekuensi dan akumulasi interaksi yang bermutu dan bermakna. Di sini proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan interaksi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya-cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar. Interaksi yang tidak mampu mengubah energi menjadi cahaya harus dihindari, kalau perlu dibuang jauh dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan inilah komunikasi menjadi sangat penting dalam Quantum Learning.
6.      Sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Di sini pemercepatan pembelajaran diandaikan sebagai lompatan kuantum. Pendeknya, menurut Quantum Learning, proses pembelajaran harus berlangsung cepat dengan keberhasilan tinggi. Untuk itu, segala hambatan dan halangan yang dapat melambatkan proses pembelajaran harus disingkirkan, dihilangkan, atau dieliminasi. Di sini berbagai kiat, cara, dan teknik dapat dipergunakan, misalnya pencahayaan, iringan musik, suasana yang menyegarkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan sebagainya. Jadi, segala sesuatu yang menghalangi pemercepatan pembelajaran harus dihilangkan pada satu sisi dan pada sisi lain segala sesuatu yang mendukung pemercepatan pembelajaran harus diciptakan dan dikelola sebaik-baiknya.
7.      Sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar, sehat, rileks, santai, dan menyenangkan, sedang keartifisialan dan kepura-puraan menimbulkan suasana tegang, kaku, dan membosankan. Karena itu, pembelajaran harus dirancang, disajikan, dikelola, dan difasilitasi sedemikian rupa sehingga dapat diciptakan atau diwujudkan proses pembelajaran yang alamiah dan wajar. Di sinilah para perancang dan pelaksana pembelajaran harus bekerja secara proaktif dan suportif untuk menciptakan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.
8.      Quantum Learning sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu membuahkan kegagalan, dalam arti tujuan pembelajaran tidak tercapai. Sebab itu, segala upaya yang memungkinkan terwujudnya kebermaknaan dan kebermutuan pembelajaran harus dilakukan oleh pengajar atau fasilitator. Dalam hubungan inilah perlu dihadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman pembelajar perlu diakomodasi secara memadai. Pengalaman yang asing bagi pembelajar tidak perlu dihadirkan karena hal ini hanya membuahkan kehampaan proses pembelajaran. Untuk itu, dapat dilakukan upaya membawa dunia pembelajar ke dalam dunia pengajar pada satu pihak dan pada pihak lain mengantarkan dunia pengajar ke dalam dunia pembelajar. Hal ini perlu dilakukan secara seimbang.
9.      Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Isi pembelajaran meliputi penyajian yang prima, pemfasilitasan yang lentur, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup. Konteks dan isi ini tidak terpisahkan, saling mendukung, bagaikan sebuah orkestra yang memainkan simfoni. Pemisahan keduanya hanya akan membuahkan kegagalan pembelajaran. Kepaduan dan kesesuaian keduanya secara fungsional akan membuahkan keberhasilan pembelajaran yang tinggi; ibaratnya permainan simfoni yang sempurna yang dimainkan dalam sebuah orkestra.
10.   Memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau material. Ketiganya harus diperhatikan, diperlakukan, dan dikelola secara seimbang dan relatif sama dalam proses pembelajaran, tidak bisa hanya salah satu di antaranya. Dikatakan demikian karena pembelajaran yang berhasil bukan hanya terbentuknya keterampilan akademis dan prestasi fisikal pembelajar, namun lebih penting lagi adalah terbentuknya keterampilan hidup pembelajar. Untuk itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat terwujud kombinasi harmonis antara keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal.
11.     Menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran. Tanpa nilai dan keyakinan tertentu, proses pembelajaran kurang bermakna. Untuk itu, pembelajar harus memiliki nilai dan keyakinan tertentu yang positif dalam proses pembelajaran. Di samping itu, proses pembelajaran hendaknya menanamkan nilai dan keyakinan positif dalam diri pembelajar. Nilai dan keyakinan negatif akan membuahkan kegagalan proses pembelajaran. Misalnya, pembelajar perlu memiliki keyakinan bahwa kesalahan atau kegagalan merupakan tanda telah belajar; kesalahan atau kegagalan bukan tanda bodoh atau akhir segalanya. Dalam proses pembelajaran dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah (punishment dan reward) tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai. Nilai dan keyakinan positif seperti ini perlu terus-menerus dikembangkan dan dimantapkan. Makin kuat dan mantap nilai dan keyakinan positif yang dimiliki oleh pembelajar, kemungkinan berhasil dalam pembelajaran akan makin tinggi.
12.   Mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi. Di sinilah perlunya diakui keragaman gaya belajar siswa atau pembelajar, dikembangkannya aktivitas-aktivitas pembelajar yang beragam, dan digunakannya bermacam-macam kiat dan metode pembelajaran. Pada sisi lain perlu disingkirkan penyeragaman gaya belajar pembelajar, aktivitas pembelajaran di kelas, dan penggunaan kiat dan metode pembelajaran.
13.   Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh dan pikiran membuat pembelajaran bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.
  

G.  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Quantum

1.      Pengkondisian awal
Tahap ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental siswa mengenai model pembelajaran kuantum yang menuntut keterlibatan aktif siswa. Melalui pengkondisian awal akan memungkinkan dilaksanakannya proses pembelajaran yang lebih baik. Kegiatan yang dilakukan dalam pengkondisian awal meliputi: penumbuhan rasa percaya diri siswa, motivasi diri, menjalin hubungan, dan ketrampilan belajar.

2.      Penyusunan rancangan pembelajaran
Tahap ini sama artinya dengan dengan tahap persiapan dalam pembelajaran biasa. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah penyiapan alat dan pendukung lainnya, penentuan kegiatan selama proses belajar mengajar, dan penyusunan evaluasi.

3.      Pelaksanaan metode pembelajaran kuantum
Tahap ini merupakan inti penerapan model pembelajaran kuantum. Kegiatan dalam tahap ini meliputi T-A-N-D-U-R: penumbuhan minat, pemberian pengalaman umum, penamaan atau penyajian materi, demonstrasi tentang pemerolehan pengetahuan oleh siswa, pengulangan yang dilakukan oleh siswa, perayaan atas usaha siswa.
4.    Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan terhadap proses dan produk untuk melihat keefektifan model pembelajaran yang digunakan. Langkah- langkah pembelajaran metode pembelajaran ceramah bermakna dan dilaksanakan dengan tahap- tahap:
1). Guru mengecek pengetahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan
2). Guru menerangkan dan menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan metode   ceramah, di sini siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru dan mencatat hal-hal yang penting di buku tulis.
3).  Guru memberikan contoh soal dan mengadakan tanya jawab pada siswa tentang materi..
4).  Guru memberikan latihan soal atau memberi pekerjaan rumah.
5). Guru dan siswa secara bersama- sama membahas hasil pekerjaan siswa dan mengambil    kesimpulan.
6).  Guru mengadakan evaluasi.
H.                KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL QUANTUM
     Kelebihan
1.      Dapat membimbing peserta didik kearah berfikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
2.    Karena Quantum Teaching lebih melibatkan siswa, maka saat proses pembelajaran perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
3.    Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
4.    Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
5.    Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.
6.    Karena model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar, maka secara tidak langsung guru terbiasa untuk berfikir kreatif setiap harinya.
7.    Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.

           Kekurangan
1.      Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.
2.    Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
3.    Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian dll. Maka dapat mengganggu kelas lain.
4.    Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
5.    Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
6.    Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan. Sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.


DARI ARTIKEL DI ATAS, SAYA INGIN MENGAJAK PEMBACA UNTUK BERDISKUSI DENGAN MENJAWAB BEBERAPA PERTANYAAN BERIKUT :
1.       SEJAUH MANA EFEKTIFITAS MODEL QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI INDONESIA ?
2.      PADA TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN APAKAH YANG PALING COCOK  UNTUK MENERAPKAN MODEL QUANTUM, APAKAH  DI SD, SMP ATAU SMA, JELASKAN MENGAPA DEMIKIAN?
3.      DAPATKAH SEORANG GURU MUDA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DI SEKOLAHNYA?


16 komentar:

  1. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3.
    Kalau menurut saya bisa. Tergantung apakah guru muda tersebut bisa menyesuaikan dengan pembelajaran model kuantum.karena disini dituntut guru itu kreatif dan memiliki pengalaman.Karena setiap org itu memiliki ketampilan masing2.
    Terima kasih

    BalasHapus
  2. DAPATKAH SEORANG GURU MUDA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DI SEKOLAHNYA?
    seorang guru Muda dapat menjalankan model Quantum di atas, namun yang harus dipertimbangkan ialah saat guru tersebut mengerti secara literasi teori dan plaksaanaan model Quantum tersebut. dan menjalankan sintaknya sesuai dengan yng telah dirumuskan maka akan lebih baik saat menjalankan Model Quantum ini apabila sudah berpengalaman menjalankanya. atau dibantu oleh guru lain untuk meninjau apakah berjlan dengan baik atau tidak.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  3. saya akan menanggapi pertanyaan sdri.ema yg no.3.

    -menurut saya, guru muda maupun yang tua bisa menerapakan model quantum ini asalkan guru tersebut sudah terlatih dalam menerapkan model ini dan bertindak profesional. karena model quantum ini memerlukan perencanaan yang matang sebelum diterapkan di dalam kelas dan guru tersebut sudah memahami sintaks yang ada pada model quantum ini.

    terima kasih.

    BalasHapus
  4. terimah kasih ulsannya, menurut saya, efektifiitas model kuantum ini telah berjalan dengan baik, kerna pda prinsipnya pembelajaran ini membuat proses pembelajaran yang menyenangkan, mnumbuhkan semangat dan ini bisa dilihat ketika siswa mampu menjawab pertanyaan dari guru pada sat proses penbelajaran. sekian

    BalasHapus
  5. Pembelajaran Kuantum secara umum meningkatkan aktivitas pendidik dan peserta didik. Selain itu juga memaksimalkan aktivitas sesuai kesenangan otak. Sehingga menurut saya, metode ini paling efektif diterapkan untuk usia dini (TK) dan sekolah dasar,.
    Terimakasih

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum wr wb buk
    Menanggapi pertanyaan kedua, menurut saya model ini cocok ditingkatan Sd,smp ataupun sma.apalagi dgn tunrutan kurikulum 2013 yang menuntut pmbelajaran berpusat pada siswa. Yang harus disesuaikan adalah materi yang bisa diterapkan dalam model ini, materi2 yg bisa disesuaikan dgn sintak dari model ini.terimakasih

    BalasHapus
  7. menanggapi pertanyaan no.3
    siapapun gurunya baik yang guru muda dan senior daoat menggunakan model pembelajaran Quantum karena berjalan dan tidaknya suatu pembelajaran itu tergantung dari guru, apakah guru tersebut telah menyiapkan perencanaan pembelajaran yang matang sehingga tujuan pembelajaran menjadi tepat sasaran.

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum wr wb
    saya menanggapi pertanyaan no 3.
    Menurut saya seorang guru muda dapat menerapkan model pembelajaran quantum ini asalkan guru tersebut memahami benar bagaimana teori dan penerapan model quantun, mempunyai persiapan dan perencanaan pembelajaran yang baik sehingga model pembelajaran quantun ini dapat berjalan dengan baik dan sesuai.

    BalasHapus
  9. terima kasih, menjawab nmor 1 SEJAUH MANA EFEKTIFITAS MODEL QUANTUM DALAM PEMBELAJARAN SAINS DI INDONESIA ?
    kalau ditinjau dri efektifitasnya menurut sya harus ada tinjauan ilmiah atau penelitian.tapi dilihat dri segi kelebihannya model quantum baik gunakan dalam pembelajaran yg pembelajarannya berpusat pada siswa.

    BalasHapus
  10. Menurut pendapat saya seorang guru muda dapat menerapkan metode quantum jika mampu menguasai tahapan pembelajaran TANDUR yang ada dalam metode quantum

    BalasHapus
  11. DAPATKAH SEORANG GURU MUDA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DI SEKOLAHNYA?
    saya rasa bisa asal guru muda tersebut paham cara menggunakan model pembelajaran quantum dengan baik dengan cara memperhatikan langkah-langkah pembelajarannya secara tertib.

    BalasHapus
  12. Menanggapi soal no 3.
    Menurut saya, model ini dapat juga di terapkan oleh guru muda di sekolah.
    Asalkan ia benar benar paham tentang model ini, agar pada saat penerapannya bisa efektif dan berjalan sebagai mana yang di harapkan.

    BalasHapus
  13. menanggapi pertanyaan noro 3. seorang guru muda sekalipun yang belum memiliki banyak pengalaman mengajar juga dapat menerapkan QT ini asalakan memahami langkah-langkah QT dngan baik dan juga mampu mengorganisasikan lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum, saya akan menanggapi pertanyaan kedua yaitu " DAPATKAH SEORANG GURU MUDA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DI SEKOLAHNYA?" Menurut saya model ini bisa diterapkan oleh guru muda dengan cara belajar terlebih dahulu bagaimana kriteria,sintaks, strategi yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Quantum ini.Dengan terus menambah ilmu dengan guru senior, teman sejawat yang telah melakukan dan mengikuti pelatihan-pelatihan. Tentunya guru muda pun akan memiliki pengalaman yang lebih baik pula dan mampu menerapkan model pembelajaran Quantum di kelas.

    BalasHapus
  15. DAPATKAH SEORANG GURU MUDA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DI SEKOLAHNYA? dapat asal kan guru tersebut paham bagaimana sintaks pembelajaran quantum

    BalasHapus
  16. PADA TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN APAKAH YANG PALING COCOK UNTUK MENERAPKAN MODEL QUANTUM, APAKAH DI SD, SMP ATAU SMA, JELASKAN MENGAPA DEMIKIAN?
    padang tingkatan dasar dan menengah pertama, alasanya pembelajaran ini adalah pembelajaran aktif yang menyenangkah, jiwa kekanakan mereka yang masih sanagat membutuhkan reward dapat jd alasan untuk motivasi mereka aktif dalam setiap pembelajaran.

    BalasHapus